Senin, 20 Desember 2010

TRAFFIC: Kukang masih dijual bebas

TRAFFIC menemukan fakta di lapangan: kukang masih dijual secara terbuka di pasar-pasar satwa di Indonesia, bahkan hanya sehari setelah berbagai lembaga konservasi dan wakil pemerintah bertemu dalam seminar konservasi kukang di Bogor, Jawa Barat, awal Desember lalu.

Chris R. Shepherd, Direktur Regional TRAFFIC Asia Tenggara melihat langsung di pasar Jatinegara pada 10 Desember, kukang dijajakan dalam kandang-kandang pinggir jalan. Salah satu toko bahkan menempatkan 6 kukang bersesakan dalam satu kandang.

“(Keberadaan) Hewan-hewan ini memperlihatkan ancaman yang dihadapi kukang dan spesies terancam lainnya di Indonesia. Perdagangan dilakukan secara terbuka dan pedagang tidak takut pada hukuman," ujar Chris.

Beberapa hewan dilindungi lainnya tampak dijual di pasar tersebut, termasuk beberapa jenis elang (crested serpent eagle & hawk eagle), burung layang-layang dan kucing hutan.

Berita selengkapnya dari TRAFFIC bisa dibaca.di sini.

foto: Olivier Caillabet/TRAFFIC Southeast Asia

(k)

Selasa, 14 Desember 2010

Sahabat satwa Indonesia di Belanda


Sudah lebih dari setahun terakhir ini, dua ibu dan satu bapak aktif menggalang dana di Belanda untuk membantu satwa yang dirawat di pusat rehabilitasi IAR di Indonesia. Mereka juga giat menyebarkan informasi mengenai satwa Indonesia yang terancam punah kepada masyarakat di sana.

Kepedulian Ibu Yvonne, Ibu Drineke, dan Pak Willy pada satwa Indonesia mendorong ketiganya mengikuti berbagai bazaar dan membuka stand di pekan-pekan raya untuk menjual barang-barang mereka yang tidak digunakan lagi. Mereka sudah melakukannya antara lain di kota Bilthoven dan Utrecht.

Setiap ada kesempatan jadi peserta bazaar, mereka akan ikut berpartisipasi membuka stand untuk menggalang dana. Merekapun memberi informasi pada pengunjung bazaar mengenai kondisi satwa-satwa liar Indonesia yang membutuhkan pertolongan. Hasil dari penjualan barang-barang itu sepenuhnya mereka kirimkan ke IAR Indonesia untuk membantu satwa di negeri yang sesungguhnya jauh dari tempat tinggal mereka.


Ketiganya adalah warganegara Belanda. Kegiatan mereka ini merupakan bentuk cinta mereka kepada satwa Indonesia. Dana yang mereka kirimkan selama ini sangat membantu para orangutan, kukang, macaca, juga anjing dan kucing jalanan yang diselamatkan dan dirawat IAR Indonesia.

Minggu, 12 Desember 2010

Jack, Ledi dan Puyol: 3 bayi orangutan penghuni baru Pusat Rehabilitasi IAR di Ketapang

Pusat Rehabilitasi International Animal Rescue (IAR) di Ketapang, Kalimantan Barat kembali menerima hasil penyitaan orangutan. Kali ini: 3 bayi orangutan. Mereka berhasil diselamatkan oleh tim yang terdiri dari IAR Indonesia, Yayasan Palung, tiga polisi hutan dari BKSDA Ketapang dan satu anggota polisi dari Polres Ketapang. Penyitaan dilakukan Kamis 2 Desember lalu.

Dua dari bayi-bayi tadi selama ini dikurung secara ilegal di kantor perusahaan tambang bauxit PT Harita. Satu bayi lagi didapat dari penduduk yang merantainya setelah ibu sang bayi dibunuh dan dimakan.
 
Puyol

Jack & Ledi
Kedua orangutan yang dikeluarkan dari kurungan PT Harita, adalah korban perdagangan satwa. Mereka dibeli dari pemburu oleh manajer lapangan PT Harita. Dalam Undang-Undang no. 5 tahun 1990, tindakan memburu, membunuh, menangkap, menjual, membeli, memelihara, atau menyakiti orangutan adalah pelanggaran hukum. Kedua bayi itu sudah berada di sana selama berminggu-minggu, walaupun di lokasi pertambangan itu selalu ada beberapa petugas dari BRIMOB.

Walaupun hukum yang melindungi orangutan sudah berumur 20 tahun, jarang sekali diterapkan hukuman pidana. Populasi orangutan menyusut dengan cepat sekali. Jika tidak ada yang dilakukan untuk mencegahnya, satwa langka ini bisa saja punah.

Andrew de Sousa dari Yayasan Palung mengatakan, "Jika sebuah perusahaan besar yang melanggar Undang-Undang bisa bebas dari hukuman, itu berarti pesan bagi publik bahwa pelanggaran-pelanggaran hukum di kemudian hari juga tidak akan dikenai pidana. Tanpa adanya komitmen kuat dari pemerintah, sulit bagi kita untuk bisa optimis mengenai masa depan orangutan."
Dr. Karmele & Puyol

Karmele Llano Sanchez, direktur veteriner International Animal Rescue, mengatakan, "Karena orangutan dan manusia mirip, maka banyak penyakit pada orangutan yang juga bisa diidap oleh manusia. Masalah penularan penyakit dari orangutan ke manusia dan sebaliknya ini merupakan masalah serius."

Ketiga bayi orangutan tersebut sekarang telah berada dalam perawatan dokter-dokter hewan IAR. Mereka tidak lagi ketakutan dengan rantai di leher. Ketiganya kini bisa tidur lebih nyaman dalam kandang dengan selimut dan beberapa mainan, serta mendapat makanan sehat secara teratur. Mereka diberi nama Jack, Ledi, dan Puyol.


Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Yayasan Palung: Phone/Fax: +62.534.3036367
Email: yayasanpalung@gmail.com
IAR Indonesia - Dr. Karmele: 0813 1888 7263
Email: informasi@internationalanimalrescue.org

Kamis, 25 November 2010

IAR Indonesia menerima 8 Macaca dari Merapi

Rabu, 24 November 2010, Pusat rehabilitasi satwa IAR Indonesia di Ciapus, Bogor menerima 8 ekor macaca peliharaan yang diselamatkan dari kampung-kampung di lereng Gunung Merapi. Mereka terdiri dari 6 Monyet ekor panjang-Macaca fascicularis (long-tailed macaque) dan 2 Beruk-Macaca nemestrina (pig-tailed macaque). Penyelamatan kedelapan macaca ini dilakukan oleh JAAN (Jakarta Animal Aid Network) di daerah bencana letusan Merapi. Merapi meletus sejak 26 Oktober lalu.

Menurut Femke Monita dari JAAN, monyet-monyet ini diselamatkan dari kandang-kandang milik warga yang ditinggalkan saat pemiliknya mengungsi. Saat itu kondisi mereka sangat memprihatinkan karena berhari-hari tidak terurus dan keselamatannya terancam oleh awan panas yang saat ini masih terus keluar dari puncak Merapi.

JAAN bekerjasama dengan pihak BKSDA Yogyakarta (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), COP (Centre for Orangutan Protection) dan AFJ (Animal Friends Jogja) untuk melakukan penyelamatan tersebut. Kedelapan monyet tersebut sempat dititipkan di kandang PPSJ (Pusat Penyelamatan Satwa Jogja).

Setelah akhirnya diputuskan untuk mengirim mereka ke pusat rehabilitasi IAR, macaca-macaca ini berangkat dari Jogja hari Selasa dan menempuh perjalanan darat sepanjang malam. Mereka tiba di Bogor Rabu pagi, sekiter pukul 7. “Kondisi monyet-monyet tersebut sudah membaik,” kata Karmele, Director veterinary IAR Indonesia. Walaupun ada 3 ekor yang sangat kurus, kemungkinan mengalami malnutrisi.

Kelompok Monyet ekor panjang dalam rombongan monyet korban Merapi ini terdiri dari 2 jantan dewasa, 2 betina dewasa, 1 anakan jantan dan 1 anakan betina. Sedangkan beruk terdiri dari 2 betina dewasa. Saat ini mereka berada dalam kandang karantina, terpisah satu sama lain, kecuali kedua anak kecil tadi, mereka ditempatkan bersama 1 betina dewasa. Mereka semua akan dimasukkan ke kandang sosialisasi setelah cukup mendapat perawatan dalam karantina.

Sabtu, 20 November 2010

IAR kembali selamatkan Orangutan

International Animal Rescue (IAR) Indonesia kembali menyelamatkan Orangutan. Setelah akhir Oktober lalu tim IAR berhasil menyelamatkan Orangutan betina bernama Mely dari ikatan rantai belasan tahun, IAR bergerak lagi Jumat kemarin untuk menyelamatkan satu Orangutan jantan berusia 13 tahun. Orangutan bernama Monte itu dievakuasi dari rumah pemiliknya di Monterado, Kalimantan Barat, oleh IAR bersama tim BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) yang berangkat dari Pontianak.

Selama ini Monte menjalani hidupnya 12 tahun dalam kandang. Walaupun ia bisa berdiri di dalamnya, ia dirantai karena semakin dewasa ia makin kuat dan bisa saja mendobrak pagar kandang. Pagi ini, Sabtu 20 November, Monte sudah bisa tidur di tempat yang jauh lebih nyaman. Ia kini sudah berada di pusat rehabilitasi IAR di Ketapang, Kalimantan Barat. Dengan tim dokter hewan dan perawat satwa, tempat ini aman baginya.

Kondisi tubuhnya sangat menyedihkan, menurut drh. Karmele Sanchez, Direktur Veteriner IAR Indonesia, Monte menderita malnutrisi. "Monte adalah orangutan paling malang yang saya temui selama ini. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa bertahan hidup di sana. Saat tiba di Ketapang, untuk berjalan dan memanjat tali dalam kandang saja kakinya bahkan gemetar," papar drh. Karmele.

Memelihara Orangutan adalah tindakan melanggar hukum. Tapi tetap saja mereka ditangkapi dari hutan. "Kita harus bergerak bersama Pemerintah Indonesia dan LSM lain untuk menjalankan program-program penegakan hukum. Jika tidak, kita tinggal melihat orangutan lenyap dari hutan Kalimantan.." papar drh. Karmele.

Di Kalimantan Barat saja, populasi Orangutan diperkirakan berkurang 50 persen dalam 10 tahun terakhir. Sementara menurut data Juni 2009 dari Yayasan Titian, jumlah Orangutan liar yang masih tersisa di Kalimantan Barat diperkirakan 6.675 individu dengan dua spesies utama Pongo pygmaeus pygmaeus dan Pongo pygmaeus wurmbii.

International Animal Rescue (IAR) adalah lembaga non profit yang bekerja menolong satwa yang menderita (sesuai namanya). IAR juga menjalankan program-program vaksinasi dan sterilisasi bagi anjing dan kucing jalanan untuk mengontrol populasi mereka. IAR mendirikan kantor di
Inggris, India, Amerika Serikat, Belanda, Indonesia dan Malta. Di Indonesia, IAR berfokus pada penyelamatan, rehabilitasi dan pelepasliaran Orangutan, Kukang, dan Macaca.

(Foto-foto oleh Fery Latief)

Jumat, 19 November 2010

Seminar Konservasi Kukang di Bogor, 9 Desember mendatang

Kukang. Pernahkah anda melihat langsung binatang mungil yang tampak pemalu dengan mata besar terheran-heran itu? Atau anda mengira itu Kuskus? Apa bedanya Kukang dengan Kuskus?

Pernahkah anda ditawari orang untuk membeli Kukang (biasanya disebut kuskus oleh pedagangnya)? Atau anda bahkan memeliharanya? Mungkin kita tidak menyadari perdagangan Kukang itu ilegal dan mengancam kelangsungan hidup mereka. Bahkan Kukang Jawa termasuk dalam 25 primata dunia yang terancam punah.

Kukang (Slow Lorises, Nycticebus spp.) adalah spesies khas Asia Tenggara. Indonesia memiliki 3 jenis Kukang yaitu Nycticebus coucang dari Sumatra, Nycticebus javanicus dari Jawa dan Nycticebus menagensis dari Kalimantan. Nycticebus javanicus masuk klasifikasi terancam (terus menerus masuk dalam “IUCN Red List of 25 Most endangered Primates of the world” sejak 2008) sedangkan Nycticebus coucang dan Nycticebus menagensis masuk dalam tingkat rentan.

Pada 9 Desember ini, International Animal Rescue (IAR) Indonesia mengadakan sebuah seminar komprehensif yang akan menjawab pertanyaan anda tentang spesies Kukang, habitatnya, fungsi ekologis mereka, cara mengidentifikasi mereka, status konservasinya, serta berbagai ancaman yang dihadapi mahluk kecil mungil ini (Kukang dewasa Indonesia beratnya rata-rata 1 kilogram), termasuk tentang perdagangan kukang dan aspek-aspek hukumnya.

Seminar ini juga akan memaparkan program penyelamatan dan rehabilitasi bagi Kukang, sampai prosedur medis dan pelepasliarannya. Peserta pun akan diajak untuk urun rembug bersama para ahli untuk mencari solusi bagi konservasi Kukang. Dengan menghadiri seminar ini anda akan mendapat banyak pengetahuan berharga tentang satwa nocturnal yang hidupnya terancam ini.

(Bagi anda pemilik Kukang, IAR akan membantu anda menyerahkan satwa dilindungi ini ke negara, untuk direhabilitasi dan dikembalikan ke habitat aslinya oleh IAR)

Seminar Konservasi Kukang ini bertempat di:

Lt. 2 IPB International Convention Center (IICC)
Meeting Room A
Botani Square
Jl. Pajajaran - Bogor 161227
Kamis 9 Desember 2010
pukul 9.00 - 17.30


seminar terbuka bagi publik
biaya: Rp 200,000 (termasuk 2 x rehat kopi dan buffet makan siang)

Pembayaran dapat dilakukan langsung pada hari seminar (cash) atau melalui rekening IAR di Bank Mandiri dan setelah transfer tolong konfirmasi ke nomor : 0812 888 5072.


Bank Mandiri KCU Bogor Juanda No. rek: 133-00-0578960-7
Atas nama: Yayasan IAR Indonesia.

untuk reservasi, silakan hubungi:

Indri : 0812 888 50 72
Sukma : 0812 818 44 659
International Animal Rescue Indonesia : 0251 - 389 232
indri@internationalanimalrescue.org / sukma@internationalanimalrescue.org

bagi jurnalis yang akan meliput, mohon konfirmasi ke

Kili : 0818 11 88 29
kili@internationalanimalrescue.org


Seminar Konservasi Kukang
"Dapatkah kita menjamin kelangsungan hidup salah satu primata yang paling terancam punah di dunia ini?"

Pembicara:
  1. Jarot Arisona - Universitas Indonesia
  2. Dr. K.A.I. Nekaris, MA, PhD. - Oxford Brookes University
  3. Dr. Chris Shepherd - Traffic Asia Tenggara
  4. Maman S.Hut. - Head of SPORC unit
  5. Dr. Karmele Llano Sanchez - Veterinary Director / Direktur Veteriner International Animal Rescue
  6. Dr. Paolo Martelli - Chief Vet Hong Kong Ocean Park
  7. Richard Moore - kandidat PhD Oxford Brookes University
  8. Dr. Ulrike Streicher - Dokter hewan spesialis satwa liar dari Danang, Vietnam


Acara:

Sesi 1 : Spesies Kukang di Indonesia: status konservasi, pembedaan spesies dan aspek ekologi

  • Aspek ekologi pada Kukang
  • Pembedaan spesies: Ringkasan dari spesies Kukang yang berbeda di Indonesia – Bagaimana cara mengidentifikasi mereka?

Sesi 2 : Perdagangan Kukang : Ancaman utama terhadap keberlangsungan hidup Kukang

  • Perdagangan Kukang – domestik dan internasional
  • Isu utama dari Penegakan Hukum di Indonesia

Sesi 3 : Program Penyelamatan, Rehabilitasi dan Pelepasliaran

  • Penyelamatan, penyitaan yang berlanjut ke rehabilitasi dan pelepasliaran
  • Ringkasan penanganan dan prosedur medis pada Kukang      
  • Program pelepasliaran Kukang di Taman Nasional Gunung Halimun Salak : Pemantauan setelah pelepasliaran menggunakan radio telemetri
  • Program Pelepasliaran Kukang dan Pemantauan setelah pelepasliaran: Pengalaman di Vietnam

Sesi 4: Diskusi: Apakah diperlukan Rencana aksi untuk konservasi Kukang?
  • Merumuskan solusi yang memungkinkan untuk menanggulangi perdagangan dan melindungi spesies kukang di Indonesia:

Senin, 08 November 2010

SDN Pasir Angsana menjadi tamu IAR

Program kunjungan sekolah sudah beberapa kali menjadi agenda tim edukasi IAR. Kali ini IAR menjadi tuan rumah bagi murid-murid SDN Pasir Angsana. Pada 2 dan 3 November lalu, anak-anak kelas 6 SD bersama 2 guru mereka dalam dua hari itu menjadi tamu IAR. Mereka datang ke Ciapus dengan menggunakan angkutan umum.


Permainan “Ice Breaker” 7-Dor! dan Bos berkata membuka acara di hari pertama. Acara pembukaan yang dibumbui dengan hukuman menyanyi bagi kelompok yang salah ucap dalam permainan membuat suasana pagi itu hangat. Murid-murid sekolah berjumlah 36 anak itupun terlihat lebih rileks dan nyaman duduk di lantai, mereka bersiap mendengarkan agenda berikutnya: presentasi.


Dalam dua hari kunjungan, anak-anak itu mendapatkan pengetahuan tentang flora & fauna Indonesia melalui presentasi dan pemutaran film.

Presentasi disampaikan Indri dari tim edukasi IAR, mengenai 3 zona geografi di Indonesia, Barat, Tengah (Wallacea) dan Timur yang memiliki kekhasan satwa & tumbuhannya masing-masing.

Dalam dua hari, anak-anak itu disuguhkan dua presentasi tentang flora dan fauna sekaligus dua episode film Wildlife Indonesia. Acara menonton film di hari pertama diikuti dengan sesi menggambar, dengan 6 kelompok yang masing-masing harus membuat gambar hewan yang hidup di alam liar dalam waktu 30 menit.

Pada hari kedua, mereka diberikan kuis mengenai film yang baru mereka tonton. Di hari kedua, murid-murid terlihat lebih antusias mengajukan pertanyaan. Keasyikan dalam kedua hari itu berakhir pada pukul 11. Anak-anak itupun masih punya cukup waktu untuk kembali ke sekolah mereka, riang membawa pengetahuan baru tentang satwa dan tumbuhan khas negerinya.

Sabtu, 06 November 2010

Akhirnya Mely bebas dari ikatan rantai selama 12 tahun

Selama dua belas tahun, orangutan perempuan bernama Mely menjalani hari-harinya dengan leher terikat rantai. Ketika ia masih bayi di pedalaman Kalimantan, ibunya ditembak mati dan Mely kecil dibawa pulang oleh orang yang menembak ibunya itu, untuk dipelihara di rumah. Sejak itu ia menjalani hidup tumbuh besar ditemani rantai yang mengikatnya.



Tapi kini Mely telah bebas. Gembok yang mengunci erat rantai di leher telah dilepas, dan ia sekarang bisa tidur lebih nyaman dengan makan buah-buahan. Buah adalah makanan mewah baginya. Selama 12 tahun makanan yang diterimanya adalah mi instan atau sisa makanan di rumah tempat ia terikat rantai. Dan semakin besar, perhatian yang diperolehnya tidak lagi sama seperti ketika ia masih bayi.

Mely diselamatkan oleh Tim BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Kalimantan Barat bersama International Animal Rescue (IAR) Indonesia 22 Oktober lalu. Tim penyelamat tiba di rumah pemilik Mely setelah menempuh perjalanan 8 jam melalui sungai. Mereka masih harus menunggu 5 jam lagi sampai sang pemilik - yang ternyata seorang anggota TNI - datang.

Mereka membawa izin resmi penyitaan dan didampingi anggota kepolisian setempat yang merupakan keharusan dalam setiap penyitaan orangutan. Berkas yang diperlukan untuk membebaskan Mely disiapkan oleh BKSDA Pontianak dan BKSDA Singkawang.

“Setelah menunggu izin berbulan-bulan untuk menyelamatkannya, 22 Oktober kemarin kami menerima kabar bahwa kami sudah mendapat lampu hijau,” tutur Karmele Llano Sanchez, Direktur Veteriner IAR Indonesia. “Hanya sedikit waktu untuk melakukan persiapan. Yang kami tahu, pemilik Mely sedang berusaha menjualnya dan kami begitu khawatir begitu kami tiba dia sudah tidak ada, dan hilang pula kesempatan untuk menyelamatkannya. Syukurlah dia masih di sana dan sang pemilik akhirnya mau menyerahkan tanpa perlawanan."


Awalnya, sang pemilik sempat menawar untuk menukar Mely dengan uang atau dengan seekor kambing, tapi setelah mendapat penjelasan, ia akhirnya setuju untuk menyerahkan tanpa syarat setelah menandatangani berkas yang menyatakan Mely diserahkan ke pemerintah melalui BKSDA yang akan menunjuk IAR untuk merawatnya selama proses karantina dan rehabilitasi.

Ketika tim penyelamat datang, jelas kelihatan Mely begitu takut dengan segala hiruk pikuk di sekitarnya. Kunci gembok tebal untuk membuka rantai di lehernya tidak bisa ditemukan, sehingga ia harus masuk ke kandang pindahannya dengan leher masih terikat rantai.

Mely dipindahkan dengan kandang berukuran khusus agar ia tetap nyaman di perjalanan dengan ruang yang tidak terlalu besar agar ia tidak sampai mencederai dirinya. Begitu ia sudah masuk ke dalam boks kandang – awalnya ragu-ragu karena tentunya kotak itu asing baginya – perjalanan baru dalam hidupnya dimulai. Ia dibawa dengan perahu motor sepanjang sungai Sambas, menempuh jarak beberapa kilometer. Lalu ia melakukan perjalanan darat selama empat jam ke Pontianak.

Setelah semua berkas yang diperlukan diperiksa dan diizinkan lewat oleh pejabat bandara, keesokan harinya pagi-pagi sekali Mely pun diterbangkan dengan pesawat ke Ketapang, Kalimantan Barat. Tahap terakhir perjalanannya ia tempuh dalam waktu singkat dengan menaiki truk menuju pusat penyelamatan dan rehabilitasi IAR, dan disambut oleh seluruh tim. Iapun dipersilakan menempati kamar barunya.


Setibanya di markas penyelamatan IAR, Mely langsung dipindahkan ke kandang barunya. Keesokan harinya, Mely dibius, sehingga Karmele berhasil melepas gembok yang kejam itu dari lehernya. Karmele kemudian segera melakukan pemeriksaan medis tanpa membuat Mely terganggu. Dalam waktu dekat hasil dari tes darah dan sinar-X akan menunjukkan apakah ia menderita penyakit serius atau tidak. Untuk sementara, ia akan dibiarkan menyamankan dirinya agar terbiasa dengan lingkungan barunya. Untungnya, ia menunjukkan ketertarikan pada makanan dan bersemangat mencoba berbagai jenis buah untuk pertama kalinya.

Orangutan lainnya di markas IAR terlihat ikut senang dengan kehadiran Mely. Tapi butuh waktu sebelum ia diperkenalkan pada mereka dan secara bertahap ia akan dibantu berinteraksi dengan mereka. Mely tidak pernah bertemu dengan orangutan lainnya sejak terakhir kali ia kehilangan ibunya. Dibutuhkan kesabaran dan waktu lebih lama untuk membantunya melalui tahap rehabilitasi ini.



Alan Knight, Chief Executive IAR, mengatakan, "Saya begitu bahagia dengan kabar Mely telah dibebaskan dan sekarang aman berada dalam rawatan tim kami di Kalimantan Barat.”

"Sedihnya, Mely bukanlah orangutan terakhir yang harus kita selamatkan. Tim kami telah telah menyampaikan pada saya bahwa masih banyak orangutan dalam kurungan yang membutuhkan pertolongan. Tapi kami bertekad tidak akan mengecewakan mereka. Manusia bertanggung jawab pada penderitaan mereka. Hanya ini yang bisa kita lakukan untuk memberi mereka kesempatan kedua dalam hidup mereka."

Jika dana memungkinkan, International Animal Rescue berencana untuk membangun sebuah pusat rehabilitasi baru tempat Mely dan orangutan lain hasil penyelamatan bisa mendapatkan ruang lebih luas untuk bergerak bebas di hutan alamiah. Tujuannya tentu untuk mengembalikan mereka cepat atau lambat ke alam liar, tapi terlalu cepat untuk mengatakan hal itu bisa dialami Mely. Bertahun-tahun lamanya ia menjadi hewan peliharaan yang terikat. Sangat mungkin ia telah kehilangan kemampuannya untuk bertahan hidup di alam bebas. Apapun yang terjadi, sebuah masa depan cerah menantinya. Ia kini tidak lagi hidup terikat rantai di dek pinggir kali yang kotor, sabar menanti bertahun-tahun kapan dirinya dibebaskan. (tulisan diambil dari situs web IAR)

Senin, 18 Oktober 2010

IAR berpameran di IPB

Unit Konservasi Fauna dari Institut Pertanian Bogor mengadakan pameran baru-baru ini (11-15 Okt 2010) di Kampus IPB Darmaga dan IAR ikut menjadi pesertanya, bergabung dengan organisasi lain seperti BurungIndonesia, RAIN, PILI dan WCS.

Diwarnai dengan banner kukang, monyet dan orangutan, stand IAR mempertunjukkan beberapa film: ”Slow Loris: Keep it Wild”, ”Ozzy Ozone”, ”Sayangi Air”, dan ”Wild Indonesia”. Tim edukasi IAR yang menjaga stand sepanjang lima hari pameran juga menampilkan slide show tentang proses rehabilitasi kukang, mulai dari penyelamatan, rehabilitasi dan pelepasliaran.

Tidak hanya film dan slide, IAR juga memperagakan hasil daur ulang sampah, foto-foto dari pelepasliaran Monyet Ekor Panjang, serta buku-buku permainan untuk mengenal satwa liar. Dari puluhan mahasiswa yang mengunjungi stand IAR, ternyata ada beberapa mahasiswa yang belum pernah mengenal Kukang.

Mahasiswa yang lalu lalang berhenti sebentar di stand IAR, tertarik dengan film yang ditayangkan di layar di sisi stand. Mereka mengajukan banyak pertanyaan, mulai tentang IAR, sampai tentang kukang yang seringkali mereka anggap sama dengan Kuskus yang berasal dari Papua. Flyer dan poster serta buletin identifikasi Kukang yang disediakan setiap hari selalu habis.

Acara berlangsung hampir seminggu, dari Senin sampai Jumat. Stand IAR ditunggui bergantian oleh tim edukasi: Indri dan Sukma.

Kamis, 26 Agustus 2010

Kesadaran Marco selamatkan hidup Kukang

IAR, Bogor – Kesehariaan Marco Yunus Ferdinant, mahasiswa di Bandung, Jawa Barat, kini ditemani seekor hewan peliharaan. Marco leluasa bermain bersama hewan peliharaannya: Kukang sumatera yang dibeli dari pedagang satwa di dekat pusat perbelanjaan Bandung Indah Plaza.

Diletakkan didalam kamar, Jojo, demikian Kukang itu dinamai, keberadaannya seolah menyatu dalam pribadi pemiliknya. Namun, penyatuan itu hanya bertahan selama dua pekan. Marco menyerahkan satwa pembeliannya itu setelah mengetahui informasi lewat internet bahwa hewan jenis Kukang ternyata dilindungi.

“Saya menyerahkan atas kesadaran sendiri kalau ternyata hewan Kukang itu dilindungi. Saya juga baru tahu dari internet. Dan akhirnya saya memutuskan untuk menyerahkan kepada yang berkepentingan,” kata Marco kepada tim rescue International Animal Rescue, Muhidin dan Bobby, 19 Agustus 2010.

Selama dalam pemeliharaan, Kukang yang dinamai Jojo ini, diberi pakan susu dan ditempatkan didalam kandang berukuran 30x20 centimeter. Dalam kesehariannya, menurut penuturan pemilik, Jojo yang diperkirakan berumur dua bulan ini tak pernah diperlakukan buruk.

Dirawat Lima Hari, Bonjer Akhirnya Mati AKibat Infeksi Gusi

IAR, Bogor -- Meski sempat menjalani perawatan intensif di klinik Pusat Rehabilitasi Satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia selama lima hari, Bonjer, Kukang sumatera hasil penyerahan warga di Kebun Jeruk, Jakarta Barat, pada 6 Agustus 2010 lalu, akhirnya mati setelah mengalami infeksi yang cukup parah pada bagian gigi.

Endang Tirtana, tim rescue penjemput Kukang, mengatakan, kondisi kesehatan Bonjer amat kritis saat pertama kali diamati didalam kandang sang pemilik. Hal itu terlihat dari kondisi organ luar seperti pada bagian mata, gigi, dan kaki, yang mengalami infeksi.

“Saat dijemput dirumah pemiliknya, kondisi Bonjer sudah dalam keadaan sakit. Pada bagian mata dan kaki mengeluarkan nanah. Secara keseluruhan, bisa dikatakan kesehatannya memang sudah parah,” kata Endang.

Buruknya kondisi kesehatan Bonjer dibenarkan oleh tim medis IAR, Suli Partono. Suli menjelaskan, penyebab kematian Bonjer sebenarnya berasal dari tindakan ceroboh yang dilakukan pedagang satwa, yang dengan sengaja memotong gigi taring. Namun, jika ditelisik dari tingkat keparahan infeksi, Suli menduga pedagang mencabut paksa dan membiarkan penyebaran infeksi tersebut hingga menjalar ke seluruh tubuh.

“Ada kemungkinan gigi taringnya dicabut dengan perkakas (tank). Ada 12 gigi yang dicabut dalam-dalam. Jadi, infeksi giginya sudah kronis. Gusi berdarah, dan tidak mau makan. Bonjer juga mengidap Pheumoni atau infeksi pernafasan,” kata Suli.

Tim medis kemudian berupaya untuk menstabilkan kondisi tersebut dengan memberikan obat antibiotik Baytril. Obat itu berfungsi untuk melancarkan sumbatan pada saluran pernafasannya. Akan tetapi, jenis obat tersebut rupanya tak mempan menyembuhkan derita yang dialami Bonjer. Obat itu sama sekali tak bereaksi. Akhirnya, tim medis memberikan obat jenis Fortum berdosis tinggi. Hasilnya, Bonjer mengeluarkan cairan dari hidungnya atau yang biasa kita kenal dengan sebutan ingus.

“Kalau sudah mengeluarkan ingus seperti itu, tandanya saluran pernafasannya mulai lancar meski belum sepenuhnya lancar. Tapi karena infeksinya terlalu parah dan terlambat ditangani, akhirnya tidak dapat bertahan dan mati,” ujar Suli.

Selasa, 03 Agustus 2010

Tim IAR Indonesia Jemput Kukang sumatera di Bekasi

Olip sedang menjalani pemeriksaan medis
IAR, Bogor -- Tim Interntional Animal Rescue (IAR) Indonesia menyambangi kediaman pemilik Kukang sumatera (Nycticebus coucang) di bilangan Bekasi Timur, Jawa Barat pada 27 Juli 2010 lalu. Kukang yang dinamai Olip ini memiliki berat badan 800 gram dan panjang sekitar 24 centimeter.

Menurut penuturan pemiliknya, Olip dibeli dari pasar penjualan satwa di Jakarta seharga Rp 150 ribu. Saat itu usia Olip baru mencapai lima bulan. Setibanya dirumah, pemilik baru menyadari bahwa Kukang yang dibelinya itu sudah dalam keadaan cidera dipaha kiri.

Akibat minimnya pengetahuan, akhirnya pemilik menghubungi tim IAR untuk segera mengambil alih pemeliharaan Olip agar mendapatkan perawatan yang semestinya. Selama dipelihara, pemilik menempatkan Olip di dalam keranjang cuci sebagai kandangnya.

Tim segera membawa Olip ke pusat rehabilitasi di Curug Nangka, Ciapus, Bogor, Jawa Barat. Olip langsung menjalani perawatan medis sebelum kondisinya makin memburuk.

Senin, 02 Agustus 2010

Tim IAR Indonesia Selamatkan Orangutan di Ketapang

Ujang sesaat sebelum diamankan tim IAR
IAR, Ketapang -- Tim International Animal Rescue (IAR) Indonesia akhirnya berhasil membawa seekor Orangutan dari tangan seorang petani di daerah Talak, Ketapang, Kalimantan Barat, Senin (2/8/2010) setelah sempat mengalami perlawanan pada sehari sebelumnya. Alasan perlawanan itu disebabkan karena adanya permintaan pemilik Orangutan untuk mengganti biaya perawatan selama didalam kandang selama kurang lebih sembilan bulan.

Namun atas pendekatan edukasi dan pemahaman tentang Undang-undang penyelamatan satwa yang disampaikan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan pegiat satwa dari Flora and Fauna International (FFI), petani itu akhirnya mau menyerahkannya. Saat dilakukan proses evakuasi, kondisi kesehatan Ujang - begitu Orangutan itu diberinama - sangat memperihatinkan. Permukaan kulitnya terlihat pucat. Sementara bentuk perutnya sedikit membuncit. Menurut tim medis, Ujang mengalami penyiksaan lewat konsumsi makanan.

"Penyiksaan melalui makanan yang diberikan. Ujang dikasih pakan beras, ubi kayu. Sebab menurut pemiliknya Ujang tidak mau diberi buah dan susu" kata tim medis. Ujang yang berusia antara satu sampai dua tahun ini pertama kali ditemukan oleh petani setempat ketika terjadi kebakaran hutan sembilan bulan lalu. Diperkirakan, Ujang sengaja ditinggal atau tertinggal induknya.

Setibanya di pusat rehabilitasi IAR di Ketapang, Ujang langsung menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh termasuk proses hematologi. Hasilnya, suhu tubuhnya mencapai 35,9 derajat Celsius dan berat badan sekitar 6,3 kilogram. Tim memutuskan untuk mengambil contoh darah guna mengetahui apakah Ujang mengidap penyakit Hepatitis atau TBC. Sementara untuk mengembalikan kondisi, Ujang tidak diperkenankan mengkonsumsi makanan atau berpuasa selama sehari penuh.

Selasa, 27 Juli 2010

IAR Indonesia Melepas 16 Monyet Ekor Panjang

IAR, Bogor -- Pusat rehabilitasi satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia melepasliarkan 16 ekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Panaitan, Ujung Kulon, Pandeglang, Banten, Kamis, (29/7).

Pemeriksaan kondisi Macaca sebelum dilepasliarkan
"Ada 16 Monyet ekor panjang yang akan dilepasliarkan. Kami sudah mempersiapkan tim evakuasi satwa maupun tim survey yang sudah lebih dulu menetap disana," kata Kordinator Manajemen Satwa IAR Aris Hidayat, Selasa (26/7).

Adapun keenam belas Macaca tersebut diperoleh dari hasil proses translokasi komunitas pecinta satwa, penyerahan masyarakat di Bogor dan Jakarta serta dari Pusat Penyelamatan Satwa Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta. Berdasarkan hasil catatan IAR, usia Macaca rerata mulai enam bulan hingga sembilan tahun.

Pelepasan Macaca tersebut akan dilakukan dari kantor IAR di Curug Nangka, Ciapus, Bogor, Jawa Barat, Kamis (29/7) pada pukul 09:00. Lima personil evakuasi telah disiapkan untuk membawa 16 satwa yang terdiri dari sembilan ekor berjenis kelamin jantan dan tujuh berkelamin betina. Macaca diberangkatkan menggunakan sepuluh kandang transportasi yang khusus dirancang sesuai dengan prosedur standar pelepasan satwa.

Saat ini, seluruh Macaca telah berada dikandang sosialisasi. Dalam kurun waktu terakhir ini, Macaca telah memperlihatkan indikasi positif, yang diantaranya diamati lewat prilaku saling membersihkan tubuh diantara Macaca. Selain itu, yang tak kalah pentingnya yaitu hierarki antar Macaca dalam satu kelompok telah terbentuk.

Maka indikasi itulah yang kemudian menjadi pertanda bahwa Macaca tersebut telah memenuhi persyaratan umum untuk dikembalikan ke habitat asli disamping kondisi kesehatannya yang prima.

"Ini bisa dikatakan kelompok mereka sudah solid sehingga kekuatan kelompoknya bisa jadi bekal jika mereka tinggal diluar kandang atau di alam bebas," kata Aris lagi. "Jangan sampai dilepas ke alam malah saling berkelahi dan mati," tambahnya.

Lebih lanjut Aris menjelaskan, kesolidan Macaca di alam bebas akan membantu mereka untuk tidak mudah dimangsa kelompok Macaca lain yang lebih mendominasi lokasi. Itu sebabnya, tim IAR memisahkan mereka menjadi dua kelompok.

Pengelompokan ini pada intinya bertujuan agar strata sosial yang terbentuk selama berada didalam kandang, dapat meminimalisir konflik diantara Macaca muda dan tua. Sehingga kekuatan Macaca didalam masing-masing kelompok saling menguatkan.

"Kami memisahkan supaya antara Macaca satu dengan yang lainnya tidak berkelahi. Dalam dunia satwa, hukum alam masih berlaku. Yang paling hebat, yang paling berkuasa," sambung Aris.

Pelepasliaran Macaca ini kali ini merupakan yang ketiga kali yang telah dilakukan oleh IAR di pulau seluas 17.500 hektar itu sejak April 2008 dan Juli 2009.

Pemutaran Film Madagascar Tumbuhkan Antusiasme Anak

IAR, Bogor --  Siluet cahaya mirip sekumpulan hewan sedang bermain-main di permukaan tembok bercat putih di aula kantor International Animal Rescue (IAR) Indonesia di Curug Nangka, Ciapus, Bogor, Jawa Barat. Suara dan visual yang dibentuk dari sorotan cahaya itu, membuat 27 anak yang terdiri dari murid Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar, sejenak tertuju ke satu arah.

Mereka duduk bersilah dilantai dengan rapih. Sambil memegang makanan dan minuman, pandangan mereka tajam menyapu setiap peristiwa. Tak sedikitpun dari mereka terlihat berbicara, bahkan sebagian anak mengaku sudah sedari awal menyatakan keinginannya ingin menonton film berjudul Madagsacar itu.

Pemutaran film bertema seputar kehidupan hewan ini adalah program yang digulirkan pertama kali pada 2 Juli 2010 sebagai program anyar. Adalah tim edukasi yang berperan dibalik layar hingga program tersebut dapat terlaksana dengan sukses.

"Acara pemutaran film seperti ini akan terus kami lakukan dengan film-film yang penuh pesan pendidikan dan moral," kata anggota tim edukasi, Indri Hapsari.

Indri menambahkan, pemutaran film ini selain bertujuan untuk mengisi masa liburan sekolah, juga dapat memperluas cakrawala pengetahuan anak-anak terhadap film-film animasi sehingga, Indri melanjutkan, generasi penerus akan termotivasi untuk berkreativitas.

Nonton bareng ini juga diselingi dengan kegiatan lainnya, diantaranya menggambar hewan, membuat barang bekas menjadi barang berguna, games. Sebelum pulang masing-masing anak mendapatkan bros berbahan dasar koran nan penun aneka warna. Pemutaran film ini diadakan minimal empat kali dalam sebulan.

Pemutaran Film Gugah Kepedulian Siswa Mts Nurul Falah

IAR, Bogor -- "Marilah kita bantu orang-orang untuk melestarikan satwa yang ada, agar satwa yang ada di negara Indonesia tidak cepat punah, jangan membeli, menjual dan membunuh kukang," tulis salah seorang siswa Madrasah Tsanawiyah Nurul Falah sesaat setelah menonton film 'Aku Si Kukang Jawa' yang diputar diaula sekolah pada 19 dan 20 Juni 2010 lalu.

Berbagai pesan bernada kepedulian terus berdatangan dari siswa kelas 7, 8 dan 9 sekolah itu. Selama dua hari berturut-turut, tim edukasi International Animal Rescue (IAR) Indonesia, memutarkan tiga judul film yaitu Aku Si Kukang Jawa, Ozzy Ozon, dan Alam Indonesia Diambang Kepunahan. Ketiga film itu menceritkan tentang pelestarian Kukang, lapisan ozon yang kian menipis serta kondisi alam Indonesia.

Sedikitnya 137 siswa selama kurang lebih tiga jam, disuguhkan dengan aneka kegiatan. Mulai dari permainan kuis berhadiah, sampai membuat pesan dukungan bagi si Kukang. Hampir seluruh siswa mengaku, dengan adanya pemutaran film ini, setidaknya telah menggugah kepedulian manusia terhadap pelestarian bumi dan seisinya.

"Lindungi hewan-hewan yang hampir punah. Jangan menebang hutan sembarangan karena akan membuat hewan kelaparan. Jagalah lingkungan dari polusi. Lindungilah lingkungan sekitar kita agar menjadi lingkungan yang indah dan sayangilah semua makhluk Tuhan dan jangan tebang pohon sembarangan," kata siswa-siswi kelas 9.

IAR Indonesia Sambut Kedatangan Siswa Madrasah Nurul Iman

IAR, Bogor -- Pusat rehabilitasi satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia kedatangan rombongan dari Sekolah Madrasah Nurul Imam pada 5 Juli 2010 lalu. Kedatangan mereka langsung disambut oleh tim edukasi IAR di aula tengah. Dalam rombongan itu, para guru dan beberapa orangtua siswa juga turut mendampingi.

Tanpa mengulur waktu, anggota tim edukasi memperkenalkan sekilas tentang latar belakang berdirinya IAR. Perkenalan kemudian berlanjut ke sebuah permainan melenturkan otot bernama 'Hi-Hallo'. Tak ketinggalan, anak-anak disajikan dengan dua pemutaran film bertema hewan satwa.

Usai menonton film, tim edukasi menyampaikan penjelasan mengenai pesan positif yang dapat dipetik dari film tersebut yang diselingi dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan ini langsung dijawab dengan baik oleh sebagian anak. Mereka bahkan saling berebut mengacungkan telunjuk.

Kegiatan selanjutnya diteruskan dengan menggambar diatas kertas. Disini mereka diminta untuk menggambar hewan seperti sapi, ayam, bebek, harimau, gajah dan monyet. Saat kegiatan masih berlangsung, secara bergiliran, anak-anak diajak melihat kandang habituasi Macaca atau monyet ekor panjang yang terletak dibelakang aula. Acara itu sekaligus menjadi akhir dari rangkaian kegiatan kunjungan yang dilakukan sejak pukul 08:00 hingga 11:00.

Manfaatkan Koran Bekas Jadi Tempat Pensil

Tempat Pensil dari Kertas Koran
IAR, Bogor -- Kertas koran yang diolah menjadi bubur kertas dapat berubah wujud jadi benda-benda berguna. Berkat tangan-tangan kreatif tim edukasi, tumpukan koran yang tersimpan disudut gudang, kini dapat beralih fungsi menjadi hiasan meja. Pemanfaatan barang bekas koran itulah yang sedang dilakukan oleh anak-anak Desa Sukajadi.

Tepatnya sabtu pagi, 3 Juli 2010. Mulai pukul 08:30, anak-anak berkumpul diruang aula. Mereka yang datang terdiri dari murid Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Sebelum memulai mengolah koran, mereka diberi pengarahan trik-trik jitu dengan hasil sempurna.

Pertama-tama kertas dipotong dengan ukuran sama, lalu digulung dan dibuat menyerupai pipa. Setelah itu tempelkan pada selembar kertas secara sejajar sampai menyisakan bagian kertas. Bagian kertas yang tidak ditempeli itu kemudian diberi perekat dan disatukan sehingga hasilnya berbentuk bulat namun bisa juga dibentuk sesuai keinginan. Selanjutnya, anak-anak menyertakan kardus bekas sebagai alas penopang dibagian bawah. Dan jadilah tempat pensil. Tetap kreatif nak!

Mendaur Ulang Sampah Gelas Plastik, Yuk..

Bunga dari Gelas Air Mineral
IAR, Bogor -- Tim edukasi International Animal Rescue (IAR) Indonesia mengadakan kegiatan mendaur ulang sampah bekas gelas plastik. Mendaur ulang ini untuk dijadikan pajangan bunga hias. Peserta kegiatan ini diikuti oleh 22 anak yang berasal dari warga di sekitar Curug Nangka, Ciapus, Jawa Barat pada 9 Juli 2010.

Anggota tim edukasi Indri, sebelum memulai praktek, terlebih dulu menyampaikan penjelasan kepada anak-anak tentang bagaimana membuat hiasan bunga dari bahan yang sudah tak terpakai. Indri juga memberikan pengantar mengenai dampak sampah bagi lingkungan rumah tinggal.

Usai memberikan penjelasan, anak-anak disuguhkan dengan pemutaran film berjudul "Sup Batu". Film ini diputar selama kurang dari 60 menit. Barulah setelah film berakhir, proses prakarya alih fungsi gelas plastik dimulai.

Anak-anak tampak antusias mengotak-atik benda bawaannya. Kedua tangannya terlihat sibuk memegang peralatan. Sementara anak lainnya terlihat sedang mengunting gelas dibagian bawah. Hasil guntingan itu terlihat menyerupai pucuk bunga yang sedang mengembang ke udara.

Hasil pembuatan bunga hias ini nantinya dapat dibawa pulang sepekan mendatang saat kegiatan lainnya digelar dihari itu. Diantara karya yang sudah jadi, beberapa bunga sudah diletakkan diatas meja.

Staf IAR Meriahkan Kegiatan Capacity Building

Staf bermain Trust Fall
IAR, Bogor -- Sejak pukul 08:00 para staf International Animal Rescue (IAR) Indonesia mulai tampak berdatangan dihalaman depan. Kamis, 15 Juli 2010, mereka mengikuti serangkaian kegiatan Capacity Building atau bisa diartikan sebagai pembekalan kompetensi diri. Tujuan kegiatan ini antara lain untuk penguatan karakter pribadi dalam menjalin komunikasi antar sesama rekan kerja.

Kegiatan tersebut meliputi berbagai permainan yaitu Hujan Rintik-rintik, Tali Pintar, Kata Berantai, Trust Fall dan Helium Stick. Seluruh permainan itu, menurut salah satu anggota tim edukasi Indri Hapsari, diantaranya bertujuan untuk melatih konsentrasi, membangun komunikasi, serta mempertajam alat pendengaran.
"Paling tidak permainan-permainan ini bisa melatih ketangkasan karakter staf dan bisa diterapkan dalam kehidupan nyata," kata Indri.

Permainan 'Kata Berantai', misalnya, permainan ini benar-benar menguji konsentrasi dari setiap pesertanya. Mereka diwajibkan untuk mengingat sebuah kalimat yang dibisikan dari panitia lewat telingga peserta yang berdiri dibarisan pertama dan kemudian diteruskan hingga peserta terakhir. Kalimat berbunyi "Saya suka situ sebab situ senang senyum-senyum sendiri seperti sapi" diharapkan tidak salah disampaikan atau kurang lengkap.


Seluruh permainan yang rampung dimainkan semata-mata tidak untuk mencari seorang pemenang melainkan hanya sebagai media sosialisasi terhadap para staf IAR. Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan antar sesama staf dapat bersinergi dalam menjalankan tugas merehabilitasi satwa.

Rabu, 21 Juli 2010

Pusat Rehabilitasi Satwa IAR Indonesia Terima 3 Kukang Jawa


IAR, Bogor -- Pusat rehabilitasi satwa Internasional Animal Rescue (IAR) Indonesia, menerima tiga Kukang Jawa dari Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Cikananga, Sukabumi, Jawa Barat, pada 24 Oktober 2009 lalu. Ketiga Kukang dinamai Malique, Caebus dan Nickti.

Latar belakang kesehatan dari masing-­masing Kukang sangat berlainan. Malique, misalnya, Kukang jantan asal Sukabumi dengan berat badan 859 gram ini, setelah diperiksa tim medis IAR, ternyata mengalami kebutaan dimata kanannya. Bekas luka sobek juga tampak dibagian mata, ditambah luka bekas patah tulang di kaki kanan. Kondisi itu diperparah dengan deretani gigi yang telah terinfeksi kuman penyakit. Maka, agar penyakit tidak menyebar luas, tim medis berencana melakukan pencabutan dibagian gigi tersebut.

Kondisi Caebus tak jauh berbeda. Gigi bagian depan tampak rusak. Setelah diidentifikasi secara intensif, tim medis memutuskan untuk mengambil tindakan preventif dengan melakukan pencabutan gigi. Tim menyatakan, Caebus mengalami perlakuan yang tidak baik. Giginya dicabut paksa menggunakan pemotong kuku. Kemungkinan, kejadian itu dialami saat Caebus terkungkung dalam jaringan transaksi jual beli satwa liar di daerah Bandung, Jawa Barat. Namun begitu, kondisi fisiknya cukup baik.

Nickti pun mengalami hal serupa. Kukang Jawa yang di temukan di pasar satwa di Bandung ini, dibagian giginya terlihat menghitam dan busuk. Tim medis juga akan mengambil langkah yang sama. Nickti akan menjalani operasi kecil pencabutan gigi agar penyakit seperti kerusakan gusi tidak dialami.

Tim Edukasi Libatkan Anak-anak Gelar Observasi Hutan

IAR, Bogor -- Memasuki libur sekolah, tim edukasi Pusat Rehabilitasi Satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia mengadakan observasi alam berupa pengenalan lingkungan dan satwa di sekitar Taman Nasional Gunung Halimun - Salak, Pamijahan, Bogor, Jawa Barat pada 8 Juli 2010 lalu. Kegiatan sesi pertama itu diikuti oleh dua puluh empat anak berusia dibawah 12 tahun.

Peserta terlebih dulu dipecah menjadi empat kelompok yang terdiri dari masing-masing enam anak. Kelompok tersebut diberi nama Kucing, Amoeba, Jamur, dan Daun. Sekitar pukul 08:50, observasi dimulai.

Tim edukasi yang terdiri dari Indri Hapsari, Kusuma Lelana, Nu'man dan Ayu Diah secara bergantian memberikan pengarahan kepada seluruh peserta untuk mengenali tumbuhan dan satwa yang terdapat disekitar hutan. Peserta juga diminta untuk menggambar tumbuhan dan satwa yang mereka temukan selama observasi dilakukan.

"Selain untuk mengisi waktu liburan, anak-anak juga dapat mengetahui keragaman hayati yang ada disekitar taman nasional, ini penting untuk menjaga kelestarian alam," kata Kusuma didepan para peserta.

Penjelasan yang disampaikan tim edukasi rupanya membuat para peserta bersemangat. Mereka langsung menyebar ke dalam hutan sambil membawa perlengkapan alat tulis seperti pena dan kertas. Setelah satu jam di dalam hutan, mereka kembali lagi ke pos utama.

Tim lalu mengumpulkan kertas hasil pengamatan para peserta. Sebelum diminta menjelaskan gambar yang ditulis, mereka selanjutnya diminta untuk mengadu ketangkasan dengan permainan 'Tali Genit'. Permainan ini menggunakan seutas tali dalam keadaan terikat dan dilingkarkan ke tubuh. Tali tersebut dijalankan dari tubuh anggota ke anggota lainnya melalui pergelangan tangan tanpa memutus pegangan tangan. Kelompok Daun dan Jamur dinobatkan sebagai pemenang melampaui kecepatan empat kelompok lainnya.

Usai permainan, kelompok Kucing mengumumkan hasil temuannya satu persatu. Mereka mendapatkan burung, laba-laba, kupu-kupu, semut, cacing tanah, jamur tanah, rumput, paku-pakuan, talas, liana, manusia, belalang, kecoa, kaki seribu, capung, jamur payung, pohon pinus, pohon durian, talas, kadal, pohon nanas.

Sementara, kelompok Amoeba mendapatkan burung, kodok, ular, manusia, laba-laba, kupu-kupu, semut, capung, kaki seribu, jamur, rumput, pohon, lumut, kadal, dan pohon nanas.

Kelompok Jamur mendapatkan burung, kadal, kupu-kupu, semut, laba-laba titik, laba-laba pohon, capung, jamur payung, jamur tanah, jamur kayu, pohon, lumut pohon, rumput, semak, kadal, manusia, burung walet, kumbang, kecoa, ulat jengal, ulat bulu, ular, pohon cemara dan pohon sirih.

Terakhir, kelompok Daun menemukan burung, kadal, kupu-kupu, semut, laba-laba, capung, semut merah, capung jarum, cacing tanah, jamur tanah, jamur payung, rumput, pohon salak, pohon durian, kodok, dan lumut karpet.

Sejumlah peserta observasi mengatakan, kegiatan semacam ini selain dapat memberikan pengetahuan dini tentang alam, juga dapat menstimulasi kepedulian anak-anak agar dapat menjaga dan melestarikan alam khususnya bagi generasi penerus seusiannya.

Seperti yang dikatakan Resti, Guli Astria, dan Fajar. Peserta dari kelompok Kucing ini mengaku sangat senang mengikuti kegiatan tersebut. Menurut mereka, selain untuk mengisi masa liburan, kegiatan ini juga dapat membekali diri bagaimana menjaga dan merawat hutan beserta isinya.

"Senang banget bisa mengisi liburan sekolah dengan kegiataan yang bermanfaat. Kami mau ikut kalau ada kegiatan ini lagi," kata mereka kompak.

Indri Hapsari, anggota tim edukasi menjelaskan, kegiatan ini diharapkan dapat menyadarkan perilaku manusia dari kebiasaan memelihara satwa liar. Anak-anak, kata Indri, adalah generasi yang perlu diselamatkan agar perilaku keliru tersebut tidak menjalar ke generasi muda.

"Selain itu untuk mementingkan animal walfare, juga bagaimana anak memperlakukan satwa. Berharap bila anak-anak menemukan satwa liar agar tidak memeliharanya dan segera melapor ke IAR," kata Indri.

Selasa, 20 Juli 2010

IAR Indonesia Terima Dua Ekor Kukang Pemberian Warga

IAR, Bogor -- Pusat rehabilitasi satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia menerima dua ekor Kukang hasil pemberian warga di dua daerah yang berbeda.
Kukang Jawa berjenis kelamin betina yang dinamai Waka-waka ini adalah Kukang yang pertama diserahkan ke tim rescue dari pemiliknya Husna Dwi Putra di kediamannya di Karawang, Jawa Barat, pada 26 Juni 2010 lalu.

Menurut penuturan Husni, Kukang tersebut dibeli dari seorang pedagang hewan satwa di daerah Bandung, Jawa Barat, seharga Rp 150.000. Kala itu, umur Kukang masih belia.

"Kata pedagangnya umur Waka-waka masih bayi," kata Husni kepada tim rescue, Juni lalu di kediamannya.

Selama dipelihara, Kukang dikandangkan di dalam sebuah kotak kayu berukuran tiga kali lipat besar tubuhnya dan diletakkan di sekitar halaman rumah. Soal konsumsi makanan, Husni sering memberinya coklat dan pisang yang sudah dicairkan terlebih dulu.

Tim Rescue, yang menyambangi Kukang tersebut di Karawang, setelah melakukan pemeriksaan intensif, menemukan beberapa masalah menyangkut kondisi kesehatan gigi. Bagian rahang atas dan bawah serta gigi taring tampak ompong. Bukan hanya itu, kondisi gigi dibagian lainnya, juga dalam keadaan rusak.

"Agar tidak terjadi kebusukan gigi, ini harus dilakukan operasi pencabutan gigi sehingga gigi yang kemungkinan akan busuk tidak menyebarluas," kata Tim Rescue.

Berbeda dengan kondisi Kukang Sumatera jantan milik Havid, warga asal Depok, Jawa Barat. Kukang berusia 2 tahun bernama Zakumi yang baru dipelihara selama sehari ini masih menunjukan kondisi kesehatan yang baik meski giginya sudah tak utuh lagi.

"Kalau ditemukan ada indikasi berbahaya yang dapat mengancam gigi Kukang, ada kemungkinan dilakukan operasi pencabutan," kata Tim Rescue.

Selama dipelihara didalam kandang plastik berukuran 50x30 centimeter dan diletakkan didalam rumah, Kukang ini hanya diberi makan pisang dan pepaya.

Berselang sehari, sang pemilik lalu menyadari bahwa keinginannya memelihara hewan satwa tidak dibenarkan oleh Undang-undang. Hal itu diketahui setelah dia membaca informasi seputar Kukang di internet.

Akhirnya Havid memutuskan untuk mengembalikan Kukang ke habitat aslinya melalui penanganan tim rescue pada 1 Juli 2010 lalu.

Zakumi telah berganti nama menjadi Josh, dan kini kedua Kukang tersebut telah berada di Pusat Rehabilitasi Satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia di Ciapus, Curug Nangka, Bogor, Jawa Barat, untuk menjalani serangkaian proses pembekalan sebelum dilepasliarkan ke habitatnya.

Selasa, 13 Juli 2010

Enrichment Makanan, Bantu Monyet Ekor Panjang Berperilaku Alami

IAR, Bogor – Sharmini, sukarelawan asal Malaysia tengah asyik mengamati perilaku Macaca Fascicularis atau monyet ekor panjang, di Pusat Rehabilitasi Satwa Internasional Animal Rescue (IAR) Indonesia, Curug Nangka, Ciapus Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Kedua bola matanya naik-turun mengikuti tingkah-polah Maccaca di salah satu kandang tersebut. Rupanya, Sharmini sedang meneliti dampak psikologis yang bakal muncul ketika proses rehabilitasi terhadap Maccaca dilakukan. Sebelum melepasliarkan Maccca, Sharmini menerapkan pembekalan ‘hukum alam’. Salah satu cara yang dilakoni yaitu dengan Enrichment of Food.

Penelitian ini, menurut Sharmini, bertujuan untuk memberikan secuplik informasi kepada Macaca tentang keadaan lingkungan alam yang sebenarnya dari dalam kandang. Maka, pendekatan melalui adaptasi lingkungan fiktif ini, dapat membantu Maccaca lebih cepat mempelajari keadaan alam. Dari penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa penyesuaian lingkungan dapat meningkatkan interaksi sosial. Hal itu dapat juga berarti sebagai cara yang tepat untuk bertahan hidup di alam liar.

Sharmini menggunakan makanan sebagai enrichment karena murah dan mudah disiapkan serta dapat mengembangkan keahlian yang dibutuhkan saat Maccaca kembali ke alam. Situasi alam sangat dinamis dan selalu berubah-ubah. Dengan adanya terapan ini diharapkan Maccaca mampu mengasah keahliaannya sendiri sesuai dengan batas kebutuhan hidup di alam.

Sharmini mengunakan 3 jenis pendekatan makanan untuk meningkatkan kemampuan dan mengembangkan perilaku saat mencari makanan.
Pertama, dengan cara menyebar biji kecil seperti biji bunga matahari, jagung kering, ke atas tanah.

Kedua, madu yang disimpan pada lubang di dahan pohon di dalam kandang. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan waktu dan perilaku pencarian makanan di pohon saat mencari serangga di pohon.

Terakhir, karung goni yang diisi dengan daun bambu kering serta ditambahkan kacang tanah dan buah-buahan kecil lalu diikat dibagian atas kandang. Hal ini berguna untuk meningkatkan manipulasi dan waktu mencari makanan.

Hasil dari pengamatan Sharmini secara umum, diketahui bahwa satwa berusia muda adalah satwa yang paling mendominasi dalam penggunaan pendekatan ini.

Batasan waktu mencari makanan seiring meningkat dengan penggunaan ketiga enrichment tersebut, namun khusus untuk pendekatan dengan madu pada sebuah dahan pohon, dipastikan dapat mudah ditemukan dan dihabisi. Terdapat peningkatan aktivitas namun bukan peningkatan keseluruhan pada waktu mencari makanan. Dapat terlihat secara umum bahwa Maccaca menghabiskan waktu lebih lama pada enrichment karung dan biji-bijian. Enrichment makanan yang sederhana dapat meningkatkan periode waktu dalam mencari makanan kepada satwa sebelum dilepasliarkan.

Selasa, 06 Juli 2010

Minim Pengetahuan Merawat Kukang, Akibatkan Kematian


IAR, Bogor -- Malang betul nasib Cinere. Kukang Sumatera betina milik Setiawati warga Cinere, Depok ini, akhirnya tewas di pusat rehabilitasi International Animal Rescue (IAR) Indonesia di Ciapus, Curug Nangka, Bogor, Jawa Barat, setelah selama dua pekan mendapatkan perawatan intensif dari tim medis IAR. Kukang seberat 550 gram ini menurut tim dokter mengalami demam tinggi.

Sebelum diserahkan ke pusat rehabilitasi IAR pada 24 Juni lalu, kondisi kesehatan Cinere sangat mengkhawatirkan. Gigi taring atas dan bawah ompong. Dia juga jarang sekali menyantap makanan dan minuman yang disediakan. Bahkan, tak jarang Cinere memuntahkan makanan dari dalam perutnya. Pemandangan seperti itu kerap tergambar ketika kondisinya melemah.

Menurut penuturan Setiawati, semasa hidupnya, Cinere sudah dipelihara kurang lebih selama setahun. Dalam setahun itu, Cinere hanya diberi makan buncis dan pisang. Cinere ditempatkan di sebuah keranjang cucian. Saat kondisinya parah, Setiawati kemudian menghubungi tim rescue IAR untuk meminta bantuan.

Peristiwa yang menimpa Cinere menggambarkan bahwa Kukang bukanlah hewan peliharaan. Ia adalah hewan liar yang seharusnya hidup di alam. Sebagus apa pun kandangnya dibuat, bagi kukang itu adalah penyiksaan.

Menyayangi Kukang adalah dengan membiarkan mereka hidup di hutan bebas.

Rabu, 09 Juni 2010

Passa: Kukang Sumatera yang dibawa ke Jawa

Lima tahun yang lalu Ibu Yayat pergi mengikuti program transmigrasi ke pulau Bengkalis, Riau. Sesekali dia pulang ke kampung halamannya di Pasar Sabtu Desa Situ Udik Kecamatan Cibungbulang Bogor.

Kali ini dia pulang dengan membawa seekor bayi kukang yang dia temukan di Riau. Tidak lama kemudian Ibu Yayat kembali ke Riau, dan bayi kukang itu dititipkan kepada saudaranya.

Informasi kepemilikan kukang ini sampai ke pihak IAR, maka pada tanggal 29 Mei 2010 Tim Rescue dari IAR Indonesia datang ke rumah saudara Ibu Yayat tersebut.

Kukang itu disimpan di dapur rumahnya dalam sebuah kandang yang berupa kotak kayu berukuran sempit. Ia juga hanya diberi makan ketimun dan pisang. Setiap pagi ia dikeluarkan dari kandangnya, padahal kukang adalah hewan malam (nocturnal).

Ia terlihat tidak sehat dan stress (aggressive). Pada saat team memberikannya makan serangga pun kukang tidak me-respon.

Ibu Yayah dan saudaranya tidak tahu kalau satwa yang dipeliharanya itu adalah kukang. Mereka mengira itu kuskus. Mereka juga tidak tahu kalau kukang adalah hewan yang dilindungi dan tidak boleh dipelihara.

Kukang sumatera yang berjenis kelamin jantan tersebut kini berada di kandang karantina, dan diberi nama Passa.

Sudah saatnya masyarakat mengetahui tentang kukang dan menyadari bahwa kukang adalah hewan langka yang dilindungi undang-undang.

IAR Indonesia adalah satu-satunya pusat rehabilitasi kukang terbesar. Saat ini IAR berencana untuk melepasliarkan 4 ekor kukang sumatera ke Batutegi Lampung.

Suatu hari Passa pun akan hidup bebas di habitat alaminya di hutan.

Kiki: Kukang asal Cilandak

Rabu, 26 May 2010, tim rescue dari IAR Indonesia berangkat menuju ke rumah Bapak Johan dan Ibu Kiki di Jl. BDN Raya No.7B Cilandak Barat Jakarta Selatan. Mereka ingin menyerahkan Kukangnya kepada IAR Indonesia.

Kukang tersebut didapatkan Pak Johan sedang menempel pada kandang burung miliknya, mungkin berasal dari tetangga sebelah yang kabur.

Seperti kebanyakan orang, awalnya Pak Johan tidak tahu jika satwa tersebut bernama “kukang,” mereka mengira satwa itu adalah kuskus. Seminggu kemudian, Pak Johan mendapatkan informasi bahwa kukang merupakan satwa yang dilindungi dan tidak boleh dipelihara. Pak Johan mencari tahu tempat yang dapat menampung kukang, yang akhirnya sampailah ke IAR.

Kukang yang dipelihara Pak Johan tersebut adalah kukang jawa yang diberi nama Kiki, berjenis kelamin betina.

Selama merawat kukang, Pak Johan tidak mengetahui bahwa kukang adalah satwa yang hidup dan beraktifitas di malam hari (nokturnal). Setiap hari dia memberinya makan pisang, wortel dan pepaya, yang sebenarnya bukan makanan alaminya. Kandang tempat Kiki hidup juga sangat terbuka dan terlalu banyak sinar matahari yang masuk, sehingga Kukang tidak bisa tidur. Di samping itu kandang diletakkan bedampingan dengan gang di mana banyak sekali suara gaduh lalu lalang orang yang mengganggu ketenangannya. Kiki mulai tidak mau makan pada hari ke 5.

Kondisi kukang sangat memprihatinkan, badannya kurus dengan kondisi gigi taring atas dan bawah seperti dicabut paksa, dan gigi yang lain sengaja dibuat rata dengan gunting kuku supaya terlihat jinak.

Kukang kemudian dibawa ke pusat rehabilitasi satwa IAR Indonesia di Ciapus-Bogor dan setelah diperiksa oleh team medis, dimasukkan ke kandang karantina.

Semoga Kiki sekarang hidup lebih sehat dengan perawatan dan pakan yang semestinya. Bila memungkinkan suatu saat Kiki akan menghirup kebebasan di habitat alaminya.

Selasa, 08 Juni 2010

Lailasari: kukang mungil dari Duren Sawit.

Kamis, 3 Juni 2010, Bapak Chris mengirim email ke IAR bermaksud ingin menyerahkan kukang yang dipeliharanya.

Tim Rescue langsung menanggapi hal ini dan berangkat menuju kediamannya di Duren Sawit, Jakarta Timur.

Kukang Sumatera betina yang diberi nama Laila Sari itu masih berumur sekitar 2-3 bulan dan berada di dalam kandang kayu yang disimpan di dalam rumah.

Kondisi fisik Laila Sari cukup kurus, sangat kecil dengan luka di bagian atas hidung dengan gigi taring atas dan bawah rusak.

Selain itu warna bulunya hitam, kemungkinan dicat oleh penjual agar disamarkan menjadi anak beruang madu yang berbulu hitam.

Semula Bapak Chris tidak mengetahui bahwa Laila Sari adalah Kukang, dia mengira satwa itu adalah tikus atau kuskus, namun setelah browsing di internet dia baru mengetahui bahwa satwa tersebut adalah kukang yang merupakan hewan langka dan dilindungi.

Bapak Chris mengatakan bahwa Laila Sari sudah dipelihara selama seminggu dari sejak pertama kali dia menemukannya di jalan raya dekat daerah Pondok Gede, dekat dengan rumahnya. Selama seminggu Laila Sari diberi makan pisang dan beberapa sayuran, juga diberikan susu bubuk yang dibuat menjadi bubur.

Beruntung Laila Sari segera terselamatkan dan kini dia berada di kandang karantina Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia dengan perawatan yang intensif.

Tim rescue juga memberikan beberapa pengetahuan mengenai kukang kepada Bapak Chris dan keluarganya. Mudah-mudahan beliau bisa menyampakannya juga ke teman-teman dekatnya atau tetangga sekitarnya. Kukang tidak boleh dipelihara atau diperdagangkan.

Untuk membantu penyelamatan kukang, silakan hubungi: IAR Indonesia, 0251-8389232.

Sosialisasi Pelepasliaran Kukang Jawa di Desa Tapos 1 Tenjolaya


Pada bulan april 2010, IAR Indonesia telah melepasliarkan 2 ekor Kukang di Gunung Salak daerah Tenjolaya. Sebagai tindak lanjut dari pelepasliaran tersebut tim edukasi dari IAR Indonesia melakukan sosialisasi tentang Kukang Jawa kepada para Ketua RW, Ketua RT dan tokoh masyarakat di sekitar kawasan tersebut. Sosialisasi dilakukan pada hari Jumat 14 Mei 2010 di kantor Kepala Desa Tapos 1

Selain IAR Indonesia, dalam sosialisasi ini juga ada pembicara dari KSDA Bogor yaitu Bapak Maman S.Hut dan dari Taman Nasional Halimun Salak, Bapak Edi.

Presentasi diawali dengan pengenalan kukang jawa yang disampaikan oleh Indri dari tim edukasi IAR Indonesia . Selanjutnya presentasi kedua dilakukan oleh Bapak Maman dari KSDA Bogor tentang Penegakan Hukum Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) dan terakhir mengenai pengenalan Taman Nasional Gunung Halimun Salak disampaikan oleh Bapak Edi dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Para peserta cukup terlihat antusias mengikuti acara ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada pembicara.

Sosialisasi ini penting dilakukan karena pada umumnya masyarakat di kasawan Gunung Salak, yang merupakan habitat kukang jawa, belum banyak yang mengetahui tentang satwa jenis ini. Masyarakat masih banyak yang suka menangkap kukang untuk dipelihara atau dijual. Namun akhirnya banyak kukang yang mati karena mereka tidak tahu cara menanganinya.

Setelah mengenal kukang dan mereka tahu satwa ini dilindungi, diharapkan masyarakat di sana ikut berpartisipasi dalam menjaga kelestariannya.

Rabu, 19 Mei 2010

Rescue Kukang Liar dari Gunung Malang, Tenjolaya

Team International Animal Rescue (IAR) Ciapus, Bogor, pada tanggal 15 Mei 2010 memperoleh laporan dari warga sekitar tentang adanya penemuan seekor kukang di daerah Gunung Malang - Tenjolaya, Barat Ciapus, dan segera team Rescue IAR meluncur ke lokasi penemuan untuk verfikasi laporan, dan memang ada kukang yang dipelihara di rumah salah satu warga.



Sebagai tind
ak lanjutnya, pada Selasa tanggal 18 Mei 2010 pukul 10.30 WIB sekitar 5 orang team Rescue IAR berangkat menuju ke tempat ditemukannya kukang di daerah Tali Kolot RT 1, Desa Gunung Malang, Tenjolaya, sekitar 3 km dari Kantor IAR.

Rumah warga yang memelihara kukang tersebut berada di perkampungan yang berjarak sekitar 300 meter dari jalan raya. Pemilik rumah yang bernama Bapak Hidayat dan Ibu Dedeh tidak mengetahui bahwa satwa yang ditemukan oleh mereka itu adalah kukang, mereka menamakannya kuskus seperti masyarakat Gunung Malang pada umumnya.




Hasil identifikasi memperlihatkan kukang yang di simpan di belakang rumahnya tersebut adalah kukang Jawa (Nycticebus javanicus) dengan jenis kelamin betina. Kukang yang hanya satu ekor tersebut dipelihara dalam kandang yang terbuat dari besi, mirip kandang burung.


Hasil investigasi singkat diperoleh keterangan bahwa kukang tersebut datang dengan sendirinya ke rumah Bapak Hidayat. Kukang tersebut mendatangi rumah mereka pada malam hari (sekitar pukul 10 malam) dan oleh pemilik rumah dibiarkan masuk dan ditangkap. Untuk seterusnya kukang akhirnya dipelihara selama kurang lebih 2 bulan dan diberi pakan setiap hari dengan buah pisang (dan apel). Kukang tersebut pernah ditawar oleh seseorang dari Jakarta untuk dibeli dengan harga yang cukup lumayan, namun oleh pasangan suami istri tersebut tidak diberikan karena mereka pernah diberitahu oleh seseorang bahwa hewan yang mereka temukan itu adalah hewan langka dan dilarang untuk diperjualbelikan.


Pemeriksaan secara klinis di lapangan menunjukkan kondisi kukang baru, secara keseluruhan cukup baik. Penilaian tersebut dilihat dari bentuk tubuh kukang yang cukup besar ukurannya (tidak terlalu gemuk atau kurus), kondisi bulu, serta kondisi gigi yang sangat bagus (gigi semua masih lengkap).


Selain team Rescue, juga ikut serta bagian edukasi. Mereka memberikan informasi mengenai satwa yang dilindungi terutama kukang kepada warga sekitar yang kebetulan ikut melihat dan juga membagikan selebaran (leaflet) tentang kukang agar nantinya warga bisa mengetahui apa saja yang harus dilakukan apabila menemukan satwa ini. Dan memang sebagian besar banyak yang tidak mengenal ataupun mengetahui seperti apakah kukang itu.


Seekor Kukang yang belum diberi nama tersebut, kini dalam perawatan “Animal Keeper” di dalam kandang karantina Pusat Rehabilitasi Satwa IAR Indonesia.

Kamis, 06 Mei 2010

Studi Re-Introduksi Kukang Jawa

Metode lepas liar adalah salah satu metode konservasi yang digunakan untuk memperbaiki kondisi populasi satwa yang terancam punah. Metode ini merupakan upaya untuk mengembalikan satwa liar ke habitat aslinya. Banyak pelepasliaran telah dilakukan untuk memperbaiki kondisi populasi satwa-satwa yang terancam punah. Namun, sampai saat ini, hanya sedikit kasus lepas liar yang tergolong sukses dilakukan.

Ada banyak hal yang melatarbelakangi ketidaksuksesan itu. Misalnya saja predasi oleh hewan lain, ketidakmampuan satwa dalam beradaptasi dengan lingkungan liar yang baru, dan juga bahkan karena tidak adanya tindak lanjut mengenai keadaan satwa yang sudah dilepasliarkan (no follow up).

Selama ini, banyak pelanggaran yang dilakukan dalam beberapa kasus pelepasliaran. Contohnya adalah melepaskan satwa pada wilayah geografis yang salah, melepaskannya begitu saja tanpa persiapan adaptasi hidup di dunia liar, dan juga melepaskan kukang tanpa pengecekan medis.

Dalam konteks inilah, Pusat Penelitian Primata Nokturnal, Universitas Oxford Brookes, memberikan konsultasi kepada International Animal Rescue dalam melakukan studi pelepasliaran kukang di Ciapus, Bogor. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan metode terbaik untuk re-introduksi kukang agar mereka bisa bertahan hidup setelah pelepasliaran.

Studi pelepasliaran ini mencakup analisis habitat dan tingkah laku ekologi (behavioral ecology) dari kukang. Seperti yang kita ketahui, seekor satwa harus berada dalam sebuah system ekologis yang mendukung agar ia bisa bertahan hidup dengan sempurna. Oleh karena itu, diperlukan analisis habitat untuk mengetahui potensi lokasi pelepasliaran. Analisis habitat meliputi analisis kekayaan spesies baik kelimpahan kukang Jawa itu sendiri kelimpahan serangga, dan juga kelimpahan pohon karet (sebagai makanan).

Pertimbangan Ekologi

Selain analisis habitat, studi perilaku ekologi juga harus dilakukan dalam studi pelepasliaran. Hal ini dikarenakan banyak pelepasliaran sebelumnya yang dilakukan tanpa mempertimbangkan kesiapan perilaku satwa untuk kembali ke dunia liar. Satwa yang akan dilepasliarkan seharusnya sudah tidak lagi memiliki perilaku yang stereotipik (perilaku stress) sehingga dia bisa aman kembali ke habitat aslinya dengan perilaku normal. Oleh karena itu, dilakukan pengamatan perilaku kukang dalam kandang rehabilitasi di IAR dan juga pengamatan di kandang habituasi sebelum pelepasliaran. Perilaku yang diamati adalah aktivitas harian dan juga perilaku sosial dari kukang.

Jika habitat yang sesuai telah ditemukan dan perilaku yang sesuai untuk pelepasliaran telah diamati, maka perlu dilakukan pengecekan medis untuk kukang yang siap dilepasliarkan. Baru setelah itu, ditentukanlah lokasi pelepasliaran yang lebih spesifik. Kriteria lokasi yang sesuai untuk pelepasliaran adalah lokasi yang memiliki kelimpahan kukang yang rendah karena, berdasarkan panduan lepasliar IUCN, pelepasliaran tidak boleh menyebarkan penyakit dan gen asing ke dalam habitat yang baru. Selain itu, lokasi pelepasliaran harus berada jauh dari pemukiman dan juga harus dilakukan pendidikan konservasi di desa terdekat.

Tahapan Pelepasliaran

Sebelum pelepasliaran, kukang juga harus ditempatkan dalam kandang habituasi terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk memberi mereka kesempatan beradaptasi di lingkungan baru dan juga waktu istirahat setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Pengamatan perilaku juga dilakukan dalam tahap ini khususnya perilaku pemilihan makanan.



Pemakaian radio collar pada leher kukang yang akan dilepasliarkan

Setelah pelepasliaran dilakukan, maka kita perlu mengawasi keberadaan kukang dalam habitat barunya tesebut. Dalam konteks ini, radio tracking merupakan cara yang baik untuk mendeteksi keberadaan kukang setelah pelepasliaran selama enam bulan, yaitu dengan cara memasangkan radio collar** pada leher kukang sebelum dilepasliarkan. Radio collar akan mengirimkan sinyal ke alat penerima yang akan digunakan oleh tim pelepasliaran sehingga keberadaan mereka bisa dideteksi. Data keberadaan kukang ini digunakan untuk menganalisis daerah jelajah (home range). Dengan begitu, akan didapatkan informasi mengenai rentang wilayah yang ideal untuk pelepasliaran selanjutnya.

Studi re-introduksi kukang ini diharapkan bisa menjadi referensi baru mengenai metode pelepasliaran yang terbaik bagi kukang. Referensi ini bisa jadi berupa informasi daerah jelajah, pilihan makanan, dan juga prilaku ekologi agar kukang bisa bertahan hidup setelah dilepasliarkan.

*) reintroduksi adalah proses mengenalkan kembali satwa ke habitat aslinya. Istilah ini bisa disamakan dengan lepas liar atau release
**) radio collar adalah sebuah alat yang dipasangkan di leher satwa. Alat ini mengirimkan sinyal radio ke alat penerima sehingga keberadaan kukang bisa dilacak.