Jumat, 24 Februari 2012

PEMBERITAHUAN KEPADA PERS “Biarkan Monyet Bebas di Alam”


Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah satu dari lebih 250 jenis primata di dunia, monyet ekor panjang merupakan jenis primata yang mudah atau sering kita temui disekitar manusia (satelit manusia). Di Indonesia jenis ini belum dilindungi secara hukum, keberadaanya dialam terus dieksploitasi untuk kepentingan manusia yang diantaranya untuk diperdagangkan secara bebas dipasar-pasar hewan dan menjadi obyek pelitian dibidang kedokteran, biomedis, tekhnologi antariksa dll, kurangnya data dan informasi tentang jenis dan fungsi dialam juga menjadi salah satu pemicu tingginya angka perburuan.

Berdasarkan hasil pantauan secara umum dari data media massa dan dilapangan bahwa ada banyak permasalahan tentang Monyet ekor panjang, yang terjadi di banyak daerah dan menyeluruh dikawasan mulai dari Sumatera sampai Papua. Hal ini disebabkan banyak faktor salah satunya karena tingginya angka kelahiran dan kemampuan bertahan hidup ( daya survive). Satwa jenis ini dapat menyesuaikan diri dengan berbagai tipe habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda-beda, bahkan dalam kondisi buruk Monyet ekor panjang juga dapat bertahan hidup sendiri tanpa berkelompok.
Secara umum penyebab utama konflik Monyet ekor panjang adalah keluarnya kelompok monyet dari habitatnya baik terdesak oleh dinamika kelompok karena over populasi, kebutuhan pakan atau pun sengaja dilepas oleh pemilik karena berbagai alasan.

Salah contoh konflik tentang Monyet ekor panjang yang saat ini menjadi pembahasan media hampir selama satu bulan terakhir yaitu muncul berita baik di media cetak maupun televisi tentang konflik Monyet ekor panjang yang menyerang warga didaerah Taman Sidoarjo, berdasarkan pantauan media dan informasi warga lokal sekitar lokasi konflik, kemungkinan monyet-monyet tersebut bukan monyet liar mengingat lokasi kawasan hutan dari lokasi konflik sangat jauh. jadi besar kemungkinan monyet tersebut adalah peliharaan yang terlepas atau bahkan sengaja dilepas, karena akan sangat jelas dapat dibedakan karakter perilaku antara monyet liar dan monyet yang pernah dipelihara atau sudah terbiasa hidup disekitar manusia.

Dalam sisi kesejahteraan satwa (animal welfare) perlakuan terhadap semua jenis satwa haruslah sesuai principles of welfare atau dalam memperlakukaan satwa harus memperhatikan beberapa hal, yaitu: bebas dari haus dan lapar, bebas dari ketidaknyamanan, bebas dari rasa sakit akibat cidera dan sakit, bebas dari rasa takut dan tertekan, dan bebas berekspresi untuk berperilaku alami. Jadi sangat tidak bijak apa bila Monyet ekor panjang yang berhasil ditangkapan oleh warga dalam kasus konflik monyet di Sidoarjo tidak segera di amankan untuk direhabilitasi melainkan menjadi obyek “tontonan” warga dan dipublikasikan seluruh media dengan memperlakukan monyet tersebut tidak sesuai prinsip animal welfare yakni tertekan dengan alat gerak terikat, dianggap sebagai “hama” dan harus dimusnahkan (dapat ditembak mati).

Yayasan IAR Indonesia (International Animal Rescue) adalah merupakan LSM yang bergerak di bidang penyelamatan satwa, baik satwa domestik maupun satwa liar. Kegiatan utama IAR meliputi 3R yaitu rescue (penyelamatan), rehabilitation (rehabilitasi), dan release (pelepasliaran) kehabitat alaminya. Saat ini IAR Indonesia memfokuskan kegiatannya pada satwa primata salah satunya adalah Monyet ekor panjang.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan dalam menekan konflik Monyet ekor panjang antara lain yaitu jangan memelihara monyet, jangan melepas monyet “sembarangan” karena harus sesuai prosedur, buatlah tempat sampah tertutup sehingga tidak mudah dibuka oleh monyet, Jangan memberi makan monyet karena akan merubah perilaku alaminya, dll.

Yayasan IAR Indonesia mengajak semua masyarakat untuk menghargai monyet dengan kampanye dan penyadartahuan “Biarkan Monyet Bebas di Alam”.

Terimakasih


Untuk informasi lebih lanjut bisa berkunjung di website:

atau menghubungi kami di :

Yayasan IAR Indonesia Bogor
Jl. Curug Nangka Blok Pasir Loji
RT 04 RW 05 Kp. Sinarwangi , Kel. Sukajadi
Kec. Tamansari Ciapus Kab. Bogor 16610
PO BOX 125 Bogor 16001
Telp/Fax : (0251) 8389232

Ayut Enggeliah E
(Koordinator Program Mitigasi Konflik Monyet ekor panjang Muara Angke Jkt)
hp: 081234075917

Atau ke email :

Selasa, 21 Februari 2012

Si Martha, Pintu Masuk Pengenalan Masyarakat Sekitar Kawasan TNGHS Tentang Kukang Jawa


Oleh Robithotul Huda
Tanggal 04 Maret 2012, kami berangkat ke lokasi di mana si Martha berada. Yaitu di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Resort Gunung Salak 1.  Selama lebih dari 2 bulan, si Martha (nama kukang jawa yang lepasliarakan oleh IAR Indonesia) masih berada di lokasi tersebut. Jalan terdekat menuju lokasi tersebut adalah melewati Gang Masjid, RT 04/ RW 02 kampung Cihideng, Desa Cipelang, Kec. Cijeruk,  kab. Bogor.
Pak Rahmat adalah salah satu tokoh di kampung tersebut. Selain menjadi ketua RW lebih dari 10 tahun, dia juga menjadi ketua kelompok tani di Desa Cipelang. Yaitu Kelompok Tani Sejahtera.
Saat Huda sedang memberikan edukasi tentang kukang
“Pak rahmat, saya minta ijin unutk mengadakan kegiatan di wilayah bapak. Kami sedang melakukan monitoring kukang jawa hasil pelepasliaran oleh IAR Indonesia”. Kataku memulai pembiacaraan.
“Apa itu kukang?” dengan penasaran pak rahmat membalas. Ternyata pak rahmat belum mengenal kukang.
Kemudian akupun menjawab dan menggambarkan ciri-ciri kukang dengan gambaran yang sederhana. “Kukang itu ukuranya segini, warnanya begini, ciri khasnya di mata dan seterusnya”. Setelah itu baru poster Kukang di gelar didepan pak rahmat. “Inilah kukang pak” kataku.
Kemudian diskusipun mengalir deras dan tak terbendung, mengenai kerusakan lingkungan, pengerukan pasir dan batu (sirtu) di kampung cihideng, peta politik di Cijeruk, korupsi proyek jalan di cihideng dan sebagainya. Semua perkataan mengalir, seperti  pembicaraan dengan orang yang telah kenal sejak lama, tak ada basa-basi, lugas dan tegas.
“Kami sudah sibuk dengan urusan pertanian di ladang, jadi kami tidak punya kesempatan untuk merambah hutan. ini adalah cara kami melestarikan hutan yaitu tidak mengotak-atik kawasan tersebut”. “Berikan pekerjaan masyarakat sekitar kawasan hutan dan hutan akan lestari”.  Kata Pak Rahmat.
Tak terasa waktu menunjukkan pkl. 15.15 wib. Aku bersama Itang (kempleng) harus egera melanjutkan perjalanan ke camp. Dilereng Gunung Salak-TNGHS untuk memonitoring Martha. Dan kami berpamitan ke Pak Rahmat.
“Pak kami mohon pamit dulu, Sekalian nitip sepeda motor ya pak, 3 hari lagi saya ambil”. Ucapku.

Jumat, 17 Februari 2012

Tim medis mengikuti seminar


drh. Intan dan posternya
Tim medis dari YIARI  Ciapus terdiri dari 4 orang yang berdedikasi untuk  kelestarian satwa primata dengan cari mengobati satwa liar yang datang ke pusat rehabilitasi. Pekerjaan mereka sehari-hari bertempat di klinik dan sesekali keluar untuk mengikuti seminar atau workshop termasuk juga menjadi tim medis pada saat melakukan rescue dan release.
Beberapa kegiatan di luar dilakukan sebagai bentuk capacity building bagi tim medis, baik mendapatkan informasi maupun memberikan informasi kepada orang-orang.
Dalam beberapa bulan terakhir ini tim medis YIARI Ciapus berkesempatan untuk mengikuti beberapa kegiatan di luar.
Kegiatan pertama dilakukan oleh salah satu anggota tim medis drh. Intan Citraningputri yang bertindak sebagai poster presenter di The Joint Meeting of the 5th Conference and Congres of Asian Society of Veterinary Pathology (ASVP) 2011 & The 10th Scientific Symposium of Indonesia Society of Veterinary Pathology (ISVP) 2011 pada tanggal 22-24 November 2011, IPB ICC Bogor Indonesia.
presenter seminar
Secara umum seminar ini diisi oleh materi yang berkaitan dengan isu-isu global eco-health, emerging infectious disease, zoonosis, animale welfare, dan aspek yang berkaitan dengan kedokteran hewan dalam mewujudkan One World One Health One Medicine. Jumlah peserta yang mengikuti seminar ini ± 200 orang yang berasal dari Indonesia (dari balai penelitian, departemen pertanian, universitas, swasta, peneliti vaksin, dan lembaga konservasi), Jepang, Vietnam, Thailand, Malaysia, Taiwan, Korea, India.
3 drh YIARI Ciapus
Tim medis IAR Ciapus mengirimkan 1 buah poster dengan judul A case report : Fatal Acute Haemorrhagic Enteritis Caused by Salmonella paratyphii C in a Javan Slow Loris Nycticebus javanicus untuk kasus salmonellosis kukang jawa dan mendapatkan apresiasi dari para juri internasional sebagai ‘The 3rd Best Poster Presenter’.
Kegiatan yang lain diikuti oleh 3 orang tim medis yaitu drh. Sharmini J Paramasivam, drh. Wendi Prameswari dan drh. Intan Citraningputri pada Seminar Bedah Endolaparoskopi pada Hewan pada tanggal 19 Januari 2012 di Laboratorium Bedah FKH IPB.
Kegiatan ini diikuti oleh ±60 orang peserta dari kompentensi dokter hewan dinas, praktisi hewan kecil, praktisi hewan laboratorium, dan konservasi satwaliar.

Video : Noel sedang makan buah Rambai

video 

Menyelamatkan Noel


Kamis, 9 Februari 2012, seorang pria datang ke YIARI Ketapang untuk memberikan informasi bahwa adiknya memiliki seekor orangutan yang masih bayi dan bermaksud untuk menjual bayi tersebut kepada YIARI. Manajer lapangan YIARI Ketapang, Argitoe Ranting yang bertemu dengan pria tersebut mengatakan bahwa YIARI tidak mungkin membeli orangutan karena mereka adalah satwa yang dilindungi oleh undang-undang, selain itu orangutan juga tidak boleh dipelihara. Setelah diberikan penjelasan dengan jelas akhirnya pria tersebut mau menyerahkan orangutannya.
Esoknya tim rescue yang terdiri dari Argitoe, Richa dan drh. Jesus datang ke rumah pria yang datang kemarin di daerah Kepayan, Siduk untuk mengambil bayi orangutannya.
Noel di dalam kandang kayu
Noel, nama bayi tersebut. Dia sudah dipelihara selama satu bulan setelah ditemukan berkeliaran sendiri tanpa induk di perkebunan kelapa sawit tempat pria tersebut bekerja. Bayi ini berumur sekitar 10-12 bulan dan (syukurlah) berada dalam kondisi yang sehat.
Di pusat rehabilitasi YIARI Ketapang Noel berada sekarang. Dia cukup aktif dan kabar baiknya dia masih memiliki sifat liar seperti suka memanjat pohon dan membuat sarang tidur sendiri dari daun-daun di lingkungan sekitarnya.
Ada banyak bayi orangutan yang nasibnya tidak seberuntung Noel, jika Noel masih bisa masuk pusat rehabilitasi dan memiliki kesempatan untuk kembali ke alam, bayi-bayi lain yang diburu hanya akan hidup sampai mati di sebuah kandang yang tidak besar atau di rantai di halaman rumah seseorang sebagai binatang peliharaan.
Memelihara orangutan sama dengan melanggar hukum dan bisa mengurangi jumlah mereka di alam, jika banyak pemburu yang memburu orangutan untuk dijadikan peliharaan lama-lama orangutan bisa punah.
Selain itu, banyak perkebunan kelapa sawit yang mengambil habitat orangutan untuk dibuka sebagai lahan penanaman. Mari kita jaga kelastarian hutan! Salah satu caranya adalah dengan menanam kembali pohon-pohon di hutan, anda bisa membantu melalui : http://unbouncepages.com/act-now-for-orangutans/.


Rabu, 08 Februari 2012

SUASANA “MISTIS” SAAT MONITORING KUKANG JAWA DI LERENG GUNUNG SALAK-TNGHS

Moni, di kandang habituasi

Sedikit berbagi tentang pengalaman teman-teman saat monitoring kukang, tenyata kejadian mistis juga pernah dialami oleh teman-teman tim monitoring dari YIARI. Berikut ceritanya :

ditulis oleh : Robithotul Huda

BAGIAN 1
Diceritakan oleh : Jakaria Mastur
Dunia timur selalu tidak lepas dari kepercayaan terhadap hal-hal mistis. Benda-benda, hari, tempat seta banyak hal lain yang bisa dikaitkan dengan hal mistis tersebut.
Bagi orang awam mistis sering diidentikkan dengan hal-hal seram “hantu” dan kegelapan.
Suatu hari saat survey habitat untuk pelepasaliaran kukang jawa di lereng  gunung salak oleh IAR Indonesia, tim IARI melewati sebuah tempat yang auranya sangat terasa aneh, membuat bulu kuduk merinding. “ kok aneh ya tempat ini, biasanya aku tidak merasakan seperti ini” kata mastur. Kemudian dia bertanya kepada seorang guide lokal. “lokasi apa ini pak?” kata mastur lagi. “Disini dulu pernah ada pesawat Cassa N-211-200 milik TNI-AU yang jatuh tahun 2008 yang lalu dan seluruh penumpangnya (11 orang) tewas mengenaskan (sensor).  korban dari dalam dan luar negeri. Saya adalah salah satu orang yang ikut mengevakuasi korban”. Kata seorang guide lokal.
Mendengar cerita tersebut, tim IARI semakin merinding. Namun berbeda dengan Richard (bule). Dia tak sedikitpun menampakkan ketakutan. Malah dia ketawa-tawa melihat anggota tim IAR yang ketakutan.
Gelap Malam semakin larut, rembulan yang dinantikan, tidak menampakkan dirinya dari sore tadi. Kabut dan embun jadikan “pepohonan kapas”, dingin menusuk terseok-seok dalam langkah kaki yang tak kunjung usai. Detak jantung menyatu dalam beat rock metal. Waktu berjalan selamban keong dan “hantu” bersarang dalam otak tak kunjung hilang.
Tim survey yang dibagi menjadi beberapa kelompok dengan menyusuri jalan yang sama dan jarak yang ditentukan 10 meter. Kini menjadi menciut jadi 1 meter. Dan langkah yang semestinya pelan, menjadi dipercepat (tidak konsentrasi) sampai akhirnya ada keputusan “kita selesaikan saja survey kali ini karena tim tidak kondusif dan kita lanjutkan besok lagi” kata mastur.
Kejadian yang serupa juga terjadi saat monitoring kukang jawa hasil pelepasliaran IARI yang bernama moni. Pulsa/sinyal yang terpancar dari gelombang radio transmitter kebetulan mengarah ke lokasi jatuhnya pesawat Cassa N-211-200 milik TNI-AU. Tim yang awalnya tak menyadari sedang berada lokasi tersebut tidak merasa ketakutan namun setelah beberapa saat mereka menyadari lokasi tersebut penuh misteri, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke camp. Namun saat perjalanan, mereka tidak menemukan jalan setapak arah kembali ke camp. Setiap mengikuti jalan yang dianggap baru, ternyata mereka kembali ke lokasi semula hingga berulang-ulang.
Tim pun terduduk lemas sambil berpikir dan menenangkan diri akhirnya mencoba kembali dengan membuat jalan baru. Dan sampailah mereka di camp. Pada pukul 03.00 wib.
Di camp. Tim 2 sudah bersiap untuk berangkat menggatikan tim 1 memonitoring si Moni.” Gak usah berangkat, mending kalian masak saja kami sudah sangat lapar “ kata mastur tanpa menceritakan kejadian yang di alaminya.
Di Makam Tua di lereng gunung salak
BAGIAN 2
Diceritakan oleh : Bobby Muhidin
Saat itu tim monitoring; Boby, Ricard dan guide local sedang memonitoring  2 ekor kukang jawa hasil rilis IARI yaitu Tengah dan Paloma. Monitoring di mulai setelah hari menjelang gelap. Setelah lama mencari, akhurnya tim menemukan sinyal/ pulsa dari radio colar yang terpasang di kukang. Sinyal mengarah ke pohon besar yang tampak menonjol dari kejauhan. Tim segera melangkah ke arah pohon tersebut. Sesampai dibawah pohon, tim terperanjat ketika melihat sebuah kuburan kuno dengan  pelataran yang luas. Meskipun makam kuno, namun terlihat terawat dan bersih. Bau kemenyan dan bunga-bunga sesaji  semerbak  menusuk kedalam jiwa, asapnya sebentuk mahluk putih. Bobby tampak gusar, jantungnya berdebar. Rasa lelah dan kantuk yang hinggap sirna terbawa hantu-hantu gentayangan yang menggerogoti otaknya.
Namun Ricard yang orang barat malah santai di atas makam sambil rebahan meluruskan kakinya. “Kalau capek istirahat ja bob?” kata richard
“Ah.. gak ngantuk aku” jawab Bobby sambil menutupi rasa ketakutanya. Dan dia selalu mendekat ke Richard, mengekor seperti sanak kecil yang tidak mau lepas dari induknya.
Waktupun terasa berjalan sangat lamban namun akhirnya terlewati juga. Dan pagi menjelang, matahari bersinar terang, seterang perasaan kami saat melangkah pulang.