Tampilkan postingan dengan label release. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label release. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2012

Wilis, resmi menjadi kukang liar


By: Okta Wismandanu & Bobby Muhidin
Edited by : IHp_Edu
Minggu, 24 Juni 2012, radio collar yang sudah melingkari leher Wilis selama setahun dilepas. Kukang Jawa ini  sudah resmi dinyatakan sebagai kukang liar.
Tahun 2009, Wilis termasuk salah satu dari kukang-kukang yang disita oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur. Kukang-kukang tersebut kemudian di serahkan ke Pusat Rehabilitasi Kukang Yayasan IAR Indonesia (YIARI).
2011, Mei tanggal 3, bekerjasama dengan BBKSDA Jawa Barat dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Wilis dilepasliarkan ke alam dengan menggunakan radio collar agar dapat dimonitoring.
Selama monitoring, sudah dua kali radio collar Wilis diganti dikarenakan masa aktifnya sudah habis. Hal-hal seperti perilaku makan, pakan alami yang dimakan, interaksi Wilis dengan lingkungan juga daerah jelajah Wilis dipantau.
Sore hari di hari minggu tanggal 24 Juni 2012, Wilis terpantau sedang tidur di dahan pohon Kareunbi (Homalanthus sp.) setinggi + 4 meter yang ditumpangi oleh tumbuhan merambat hareues (Rubus moluccanus).
Wilis kemudian ditangkap untuk dilepaskan radio collarnya dan diperiksa kondisi kesehatannya. Pukul 17.30 WIB, Wilis yang dinyatakan sehat dilepasliarkan tanpa radio collar. Wilis dilepasliarkan di kawasan hutan TNGHS tepatnya di daerah Palasari kawasan resort Gunung Salak 1 di ketinggian 1100 mdpl.
Wilis telah bebas, tanpa radio collar di tubuhnya, tanpa monitoring lagi dari tim kami.  Harapan kami, Wilis menemukan kehidupan yang lebih baik.  Semoga, akan ada kukang lain yang seberuntung Wilis, dapat kembali ke habitatnya dan dapat menikmati lagi kehidupan liarnya.
Salam Lestari!!!


Jumat, 11 Mei 2012

Empat Ekor Kukang Sumatera Merasakan Kebebasan lagi


Oleh IHp_EDU
Bekerjasama dengan BKSDA Lampung, Yayasan IAR Indonesia (YIARI) melakukan pelepasliaran 4 ekor kukang dari PPS Lampung. Keempat kukang yang sebelumnya telah diberikan pengecekan medis oleh dokter hewan YIARI ini dinyatakan sehat dan tanpa cacat. Keempatnya masih memiliki gigi yang lengkap.
Untuk mempermudah identifikasi keempat kukang tersebut diberi nama. Aris, Intan, Winar dan Indri. Agar proses monitoring lebih mudah salah satu kukang bernama Winar diberi radio collar dengan alasan Winar memiliki berat badan ideal (700gr), agresif dan takut terhadap manusia serta memiliki vulva yang terbuka Perilaku agresif dan takut tersebut menunjukan bahwa dia masih memiliki sifat liar. Harapannya data hasil observasi dapat mewakili perilaku alami kukang terutama untuk perilaku reproduksinya.




Kamis, 15 Desember 2011

13 ekor Monyet Ekor Panjang Menikmati Kebebasan Hidup di Alam




Pemeriksaan kesehatan Macaca

Pusat rehabilitasi primata IAR Indonesia telah berhasil merehabilitasi dan melepasliarkan dua kelompok monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Panaitan-Taman Nasional Ujung Kulon pada tanggal 27 November 2011. Dua kelompok ini terdiri dari 6 ekor Kelompok Boy dan 7 ekor Kelompok Aquino. Mereka datang ke pusat rehabilitasi dengan berbagai kisah yang berbeda. Macaca bernama Api-Gunung-dan Jogja misalnya, mereka ialah korban evakuasi letusan gunung Merapi yang terjadi Oktober satu tahun silam. Macaca ini peliharaan yang ditinggalkan pemiliknya dengan kondisi dirantai saat peristiwa letusan Merapi. Setelah melalui proses rehabilitasi meliputi observasi tingkah laku, pengenalan makanan alami, pembentukan kelompok, pemberian enrichment untuk memicu perilaku alami, serta dinyatakan sehat, kemudian bisa dapat dilepasliarkan ke alam.
Lokasi pelepasliaran Legon Haji - Pulau Panaitan
Macaca secara alami hidup berkelompok dengan jantan dominan sebagai pemimpin. Kelompok macaca yang dirilis kali ini, satu kelompok dipimpin oleh Boy, Evita sebagai betina dewasa, Api, Ariel, Liong, dan Veron. Kelompok lainnya Aquino sebagai pemimpin kelompok, Annisa betina dewasa, Rita, Reni, Naeva, Gunung, dan Jogja. Lokasi pelepasliaran kali ini berbeda, sebelumnya Legon Kadam, dan rilis-site kali ini dipilih Legon Haji. Satu minggu sebelum satwa dibawa, tim advance dikirim untuk melakukan persiapan mengeksplorasi lokasi pelepasan dan membangun kandang habituasi.
Tim satwa YIARI
Kemudian pada 23 November pukul 14.00 mulai dilakukan prosedur medis yang meliputi pembiusan, pemeriksaan kesehatan umum, penimbangan, dan pemasangan microchip untuk identifikasi dimasa depan, setelah itu setiap ekor dimasukan dalam kandang transport. Pukul 21.00 WIB tim satwa berangkat dari Bogor menuju pelabuhan kecil di Sumur-Pandeglang Banten, selama diperjalanan diberikan air minum elektrolit dan pakan. Keesokan harinya kami sampai pukul 06.00 dan segera naik ke kapal yang akan mengangkut kami ke Pulau Panaitan, kami ditemani oleh dua polhut selama proses rilis ini. Lama perjalanan dengan kapal sekitar 3 jam. Selama diperjalanan ini kami sangat menikmati hijau-birunya laut, ombak yang tenang, dan burung laut terbang diatas kami. Kemudian kami mendekat ke sebuah pulau dengan pasir putih, dan pindah ke perahu jukung untuk bisa mendekat ke daratan. Kelompok Boy dan Aquino dilepas satu per satu ke dalam kandang habituasi. Mereka menghabiskan waktu selama dua hari di kandang habituasi untuk bisa mengenal kondisi lingkungan, suara, dan pakan alami yang ada disana.
Ariel makan buah Lampeni
Selama dua hari ini tim satwa melakukan observasi tingkah laku dari kejauhan. Terkadang macaca ‘Api’ memperlihatkan stereotypic bila ia mengetahui ada manusia dedekat area itu, sehingga selain observasi kami harus sejauh mungkin dari kandang habituasi. Di sekitar lokasi ini diperkirakan dihuni juga oleh 3 kelompok macaca liar. 1 kelompok didekat camp, 2 kelompok lain didekat kandang habituasi. Selama di kandang habituasi kami memperkenalkan pakan alami yang ada disana seperti daun waru laut dan daun-buah lampeni (Ardisia humilis), dan mayoritas mereka menyukai itu. Pada 27 November kami membuka atap kandang dan satu persatu dari mereka berlarian keluar dari kandang. Moment ini sungguh sangat membahagiakan bagi kami. Mereka semua berlari menjauhi manusia, dan inilah yang kami harapkan: tidak adanya ketergantungan macaca hasil rehabilitasi dengan manusia.
Monyet ekor panjang, satwa yang sering dipandang sebelah mata karena terkenal sebagai ‘hama’, ‘overpopulasi’, ‘tidak dilindungi’, namun hakikatnya mereka memiliki hak hidup dan kekebasan yang sama dengan satwa terancam punah sekalipun. Biarkan Mereka Hidup Bebas Di alam. Salam Lestari! (Intan Citraningputri-IAR Indonesia).

Jumat, 19 Agustus 2011

Wilis, dari Timur ke Barat


Wilis, sedang belajar bertahan hidup di hutan
Yayasan IAR Indonesia merupakan satu-satunya pusat rehabilitasi kukang di Indonesia. Dalam proses rehabilitasinya Yayasan IAR Indonesia menerima banyak kukang yang merupakan hasil penyitaan ataupun penyerahan sukarela, setelah melalui proses rehabilitasi beberapa kukang yang beruntung dapat dikembalikan ke habitat asalnya yaitu hutan.
Artikel blog kali ini akan bercerita mengenai perjalanan salah satu kukang yang berhasil kembali kea lam liarnya.
Di tahun 2009 BKSDA Jawa Timur melakukan operasi pasar yang berhasil menjaring 21 ekor kukang, karena tidak ada fasilitas untuk menampung kereka maka mereka kemudian dibawa ke Pusat rehabilitasi kukang Yayasan IAR Indonesia yang terletak di Ciapus-Bogor, Jawa Barat. Maka melalui jalur udara pada tanggal 13 November 2009, mereka melakukan perjalanan lintas provinsi dari bagian timur pulau Jawa menuju bagian barat pulau Jawa.
Dari 21 ekor kukang yang dibawa tersebut salah satunya diberi nama Wilis. Kukang Jawa jantan ini kemudian direhabilitasi selama kurang lebih 18 bulan atau setara 1,5 tahun. Karena kondisi gigi Wilis cukup baik maka akhirnya diputuskan agar Wilis dilepasliarkan ke hutan pada tanggal 3 Mei 2011 di daerah Tapos, Bogor.
Di lokasi pelepasliaran Wilis kemudian menjalani masa habituasi (masa penyesuaian dengan kondisi lingkungan sekitar) selama + 14 hari di kandang habituasi yang dibuat dari jaring. Sebelum dilepasliarkan Wilis dipasangkan radio collar di lehernya, hal ini berguna dalam proses monitoring. Sampai saat ini Wilis sudah dimonitoring selama 105 hari atau 3,5 bulan dan selama itu Wilis dapat bertahan hidup di alam tanpa bantuan manusia. Wilis menyukai nectar bunga dan bergerak dengan daerah jelajah yang cukup luas.
Semoga Wilis dapat terus hidup di alam dengan bebas dan tidak tertangkap lagi oleh para pemburu. Proses rehabilitasi kukang tidaklah mudah, terutama untuk kukang yang giginya sudah ditanggalkan-kesempatan dia untuk kembalike hutan hanya sedikit. Untuk itu ayo kita sama-sama memerangi perdagangan illegal kukang dengan tidak membeli dan memelihara kukang!!!