Tampilkan postingan dengan label monitoring. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label monitoring. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2012

SUASANA “MISTIS” SAAT MONITORING KUKANG JAWA DI LERENG GUNUNG SALAK-TNGHS

Moni, di kandang habituasi

Sedikit berbagi tentang pengalaman teman-teman saat monitoring kukang, tenyata kejadian mistis juga pernah dialami oleh teman-teman tim monitoring dari YIARI. Berikut ceritanya :

ditulis oleh : Robithotul Huda

BAGIAN 1
Diceritakan oleh : Jakaria Mastur
Dunia timur selalu tidak lepas dari kepercayaan terhadap hal-hal mistis. Benda-benda, hari, tempat seta banyak hal lain yang bisa dikaitkan dengan hal mistis tersebut.
Bagi orang awam mistis sering diidentikkan dengan hal-hal seram “hantu” dan kegelapan.
Suatu hari saat survey habitat untuk pelepasaliaran kukang jawa di lereng  gunung salak oleh IAR Indonesia, tim IARI melewati sebuah tempat yang auranya sangat terasa aneh, membuat bulu kuduk merinding. “ kok aneh ya tempat ini, biasanya aku tidak merasakan seperti ini” kata mastur. Kemudian dia bertanya kepada seorang guide lokal. “lokasi apa ini pak?” kata mastur lagi. “Disini dulu pernah ada pesawat Cassa N-211-200 milik TNI-AU yang jatuh tahun 2008 yang lalu dan seluruh penumpangnya (11 orang) tewas mengenaskan (sensor).  korban dari dalam dan luar negeri. Saya adalah salah satu orang yang ikut mengevakuasi korban”. Kata seorang guide lokal.
Mendengar cerita tersebut, tim IARI semakin merinding. Namun berbeda dengan Richard (bule). Dia tak sedikitpun menampakkan ketakutan. Malah dia ketawa-tawa melihat anggota tim IAR yang ketakutan.
Gelap Malam semakin larut, rembulan yang dinantikan, tidak menampakkan dirinya dari sore tadi. Kabut dan embun jadikan “pepohonan kapas”, dingin menusuk terseok-seok dalam langkah kaki yang tak kunjung usai. Detak jantung menyatu dalam beat rock metal. Waktu berjalan selamban keong dan “hantu” bersarang dalam otak tak kunjung hilang.
Tim survey yang dibagi menjadi beberapa kelompok dengan menyusuri jalan yang sama dan jarak yang ditentukan 10 meter. Kini menjadi menciut jadi 1 meter. Dan langkah yang semestinya pelan, menjadi dipercepat (tidak konsentrasi) sampai akhirnya ada keputusan “kita selesaikan saja survey kali ini karena tim tidak kondusif dan kita lanjutkan besok lagi” kata mastur.
Kejadian yang serupa juga terjadi saat monitoring kukang jawa hasil pelepasliaran IARI yang bernama moni. Pulsa/sinyal yang terpancar dari gelombang radio transmitter kebetulan mengarah ke lokasi jatuhnya pesawat Cassa N-211-200 milik TNI-AU. Tim yang awalnya tak menyadari sedang berada lokasi tersebut tidak merasa ketakutan namun setelah beberapa saat mereka menyadari lokasi tersebut penuh misteri, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke camp. Namun saat perjalanan, mereka tidak menemukan jalan setapak arah kembali ke camp. Setiap mengikuti jalan yang dianggap baru, ternyata mereka kembali ke lokasi semula hingga berulang-ulang.
Tim pun terduduk lemas sambil berpikir dan menenangkan diri akhirnya mencoba kembali dengan membuat jalan baru. Dan sampailah mereka di camp. Pada pukul 03.00 wib.
Di camp. Tim 2 sudah bersiap untuk berangkat menggatikan tim 1 memonitoring si Moni.” Gak usah berangkat, mending kalian masak saja kami sudah sangat lapar “ kata mastur tanpa menceritakan kejadian yang di alaminya.
Di Makam Tua di lereng gunung salak
BAGIAN 2
Diceritakan oleh : Bobby Muhidin
Saat itu tim monitoring; Boby, Ricard dan guide local sedang memonitoring  2 ekor kukang jawa hasil rilis IARI yaitu Tengah dan Paloma. Monitoring di mulai setelah hari menjelang gelap. Setelah lama mencari, akhurnya tim menemukan sinyal/ pulsa dari radio colar yang terpasang di kukang. Sinyal mengarah ke pohon besar yang tampak menonjol dari kejauhan. Tim segera melangkah ke arah pohon tersebut. Sesampai dibawah pohon, tim terperanjat ketika melihat sebuah kuburan kuno dengan  pelataran yang luas. Meskipun makam kuno, namun terlihat terawat dan bersih. Bau kemenyan dan bunga-bunga sesaji  semerbak  menusuk kedalam jiwa, asapnya sebentuk mahluk putih. Bobby tampak gusar, jantungnya berdebar. Rasa lelah dan kantuk yang hinggap sirna terbawa hantu-hantu gentayangan yang menggerogoti otaknya.
Namun Ricard yang orang barat malah santai di atas makam sambil rebahan meluruskan kakinya. “Kalau capek istirahat ja bob?” kata richard
“Ah.. gak ngantuk aku” jawab Bobby sambil menutupi rasa ketakutanya. Dan dia selalu mendekat ke Richard, mengekor seperti sanak kecil yang tidak mau lepas dari induknya.
Waktupun terasa berjalan sangat lamban namun akhirnya terlewati juga. Dan pagi menjelang, matahari bersinar terang, seterang perasaan kami saat melangkah pulang.

Rabu, 04 Januari 2012

Catatan Perjalanan Dibalik Monitoring N.javanicus hasil pelepasliaran IAR Indonesia di kaki Gunung Salak

Oleh Robithotul Huda

Disuatu siang hari yang kurang bersahabat dengan kami.  Hujan deras mengguyur jalan yang kami lalui. Laju kendaraan yang kencang dan dinginya kaki Gunung Salak menembus tubuh yang kuyup air hujan. “ wah ini namanya belum bertempur sudah tertembak duluan” kataku ke teman-teman.
Sampai ditujuan, kami rehat dan menghangatkan badan dengan segelas kopi hitam. Saat ini masih pkl. 15.00 wib. Teman-teman bersiap menanak nasi untuk bekal nanti malam. Setelah masakan siap , kami segera menyantap dengan lahab, petai, jengkol dan sayur lalap diperebutkan oleh 8 orang tim monitoring, “Semenarik emas yang mengkilap tergeletak didepan mata”.
Tak terasa waktu berjalan cepat, secepat makanan yang hilang dari pandang dan tinggal rasa kenyang. Adzan berkumandang. Kami bersiap berangkat.
Tim dibagi menjadi 2 kelompok ; tim 1 (4 orang) menuju ke atas (lereng gunung salak) dan tim 2 (4 orang) menuju ke bawah (ladang warga).
Aku kebebetulan dapat tugas bersama tim 1  untuk memonitoring si Marta.
Gelap dan jalan menanjak  sepertinya sudah terbiasa bagi teman-teman (tim monitoring kukang). Aku yang baru 2 kali ini ikut monitoring kukang terpaksa harus banyak berhenti, sambil menghela nafas panjang dan menghentakkanya cepat “hahhhh!” agar lelah cepat hilang.
Pkl. 19.00 wib. Kami sudah berada di puncak sebuah bukit  dikaki gunung salak 1. Tim segera mengeluarkan receiver serta menyambungkan kabel ke antenna untuk mencari sinyal dari gelombang radio yang terpancar dari  transmitter (radio collar) di kukang. “Tuut..tut..tut..” bunyi receiver yang telah menangkap sinyal dari transmitter. “Arahnya masih dari tempat yang kemarin” kata Kempleng alias Itang. “Dimana bos?” Tanyaku. Dibalik bukit itu. Samar - samar aku lihat gundukan bukit didepanku yang tidak terlalu jauh, namun terbelah oleh tebing curam. Tetapi yang dimaksud Itang ternyata bukan bukit yang terlihat didepanku itu, tetapi bukit yang berada dibalik bukit didepanku itu. “He….!” Gerutu dalam hatiku tersimpan rapat gembok rumah mewah.
Perjalanan dilanjutkan kembali menuruni tebing, lembah dan mendaki bukit dengan membuat jalur sendiri ditengah kegelapan.
Akhirnya sampai juga kami ditempat yang dimaksud. Receiver dinyalakan kembali. Ternyata benar, kami mendapat sinyal yang kuat, arahnya dari sekitar sungai kecil di bawah kami. Kamipun cepat turun dan mencari kesekitar sungai. Receiver terus dinyalakan untuk mengetahui lokasi yang tepat si kukang jawa ini. Sampai dibawah, arah sinyal berubah, sinyal bergerak menuju keatas. Kamipun terus bergerak mengejar arah sinyal. Sampai di atas, dengan terengah - engah kami harus menelan kekecewaan, karena kukang bergerak lagi ke bawah. Begitu terus hingga 3 kali dan kami harus menyerah setelah diajak bermain oleh kukang. Kami rebah disebuah batu besar tengah sungai. Air jernih sungai menggoda, kuhisap dalam, mengalir ke tenggorokan hingga menyebar keseluruh tubuh. “MASYAALLAH” segarnya.
Waktu menunjukkan pukul 22.00 wib.
Kami bergerak kembali mencari keberadaan kukang jawa hasil pelepasliaran IAR Indonesia. Namun hal yang sama kami dapatkan. Kami seperti diajak main petak umpet oleh kukang, lari kesana, kesini bolak-balik. Hingga kami dibuat bertekuk lutut oleh kukang pukul 00.00 wib.
Setelah istirahat sebentar kamipun melangkah ke camp. sampai di camp. lelah perlahan hilang saat melihat kerlip lampu rumah, jalan, mobil dan entah apalagi dari pelosok desa sampai kota bogor, Sebentuk bintang – bintang berkedip-kedip  di langit membawa lamun dan renung “berapa Mega Watt energy listrik yang di pakai oleh warga bogor raya dalam semalam? Jika bahan bakar yang dipakai untuk menghasilkan energy listrik tersebut adalah batubara, sampai kapankah batubara tersebut akan habis?
Lamun dan renung terus melayang terbawa angin malam jauh menuju ke alam antah barantah, hingga tersadarkan oleh kehadiran tim 2 pada pukul 02.00 wib.
Sesaat kemudian kami terdampar dalam negri mimpi dengan beralas sleeping bag.
Sunrise terlihat begitu elok muncul dari gunung Gede Pangrango, namun tidak bagiku, sinar mentari pagi semakin membuat mataku redup “masih ngantuk” ditambah angin dingin yang berhembus begitu kencang. Kupaksa mata ini terbuka, air dingin dari sumber air gunung salak kusiramkan kewajah dan segelas kopi hitam panas kumasukkan kekerongkongan agar mata ini benar-benar terbuka lebar dan dapat melihat :
Melihat kenyataan tadi malam; betapa beratnya kegiatan yang dilakukan tim monitoring kukang. Gelap malam dan  medan yang berat menjadi bagian dari sebuah konsekuensi sebuah kata “konservasi”.
Untuk itu marilah bersama kita jaga dan lestarikan satwa khususnya kukang jawa (N. javanicus) dengan tidak mengambil dari alam, membeli, memelihara serta memperjual belikannya.
Bukankah “Mencintai satwa liar tidak berarti harus memiliki secara fisik” tetapi cukup dengan membiarkannya bebas dihabitatnya yaitu alam liar.

Salam lestari.