Jumat, 13 April 2012

Ceria, bayi orangutan baru di baby school


Ceria, di baby school
Setelah melalui proses karantina yang sangat baik, Ceria akhirnya bisa masuk ke baby school. Ceria tampak menikmati kesehariannya di baby school dan tampak sangat menikmati keberadaan teman-temannya. Ceria juga sangat menyenangi kegiatan memanjat, dia bisa memanjat sampai ke tempat tinggi dengan cepat.

Pelansi, orangutan malang yang terjebak perangkap di habitatnya sendiri


Pelansi, terjerat jebakan yang seharusnya untuk babi
Tim rescue dari IAR Indonesia melakukan penyelamatan terhadap orangutan bernama Pelansi Jumat 06 April 2012

Pelansi, adalah nama orangutan yang direscue pada hari Jumat, 06 April 2012 oleh tim rescue dari Yayasan IAR Indonesia di Ketapang setelah mendapat  laporan dari warga lokal. Nama Pelansi diambil dari lokasi penemuan di hutan di daerah Pelansi, Kuala Satong.

Saat ditemukan kondisi Pelansi sangat mengenaskan. Salah satu tangannya terjerat oleh perangkap yang dipasang oleh warga. Orangutan malang ini telah terjebak selama 10 hari tanpa makan dan minum serta merasakan kesakitan akibat luka yang membusuk di lengan kanannya. Sebenarnya 10 hari sebelumnya Pelansi telah ditemukan oleh pemilik perangkap tersebut, namun karena dia cukup agresif, pemilik perangkap menjadi takut dan membiarkannya.  Pemilik perangkap juga takut untuk melaporkan hal tersebut  kepada yang berwajib karena dia tahu menangkap orangutan dilarang oleh pemerintah Indonesia dan dia tidak mau ditangkap.

Pelansi, sudah dirawat
Di area hutan seluas 400 hektar ternyata orang tersebut telah memasang 60 perangkap yang sama dan tersebar di seluruh areal hutan itu. Menurut keterangan warga di area sekitar perkebunan kelapa sawit milik PT. KAL (Kayong Agro Lestari), banyak terlihat orangutan. Bahkan, saat melakukan rescue terhadap Pelansi tim juga sempat melihat orangutan liar lainnya.

Kondisi Pelansi saat ini cukup kritis. Dia terkena septicemia yang disebabkan oleh luka dan infeksi dari tangannya yang terjerat. Pelansi diberikan IV line (infus) dan antibiotic serta berada dalam pengawasan tim medis IAR Indonesia selama 24 jam. Jika dia dapat melalui masa kritisnya, Pelansi harus melalui satu perlakuan medis lagi yaitu AMPUTASI. Hal ini  berarti hanya ada sedikit kemungkinan Pelansi dapat kembali dilepaskan ke alam liar.

Penggunaan perangkap diakui oleh pemiliknya ditujukan untuk menangkap babi dan rusa yang kemudian akan mereka  jadikan santapan / makanan. Dia tidak mengetahui bahwa perangkap tersebut bisa juga menjerat orangutan atau satwa liar lainnya dan bahkan bisa mencelakai orang / warga masyarakat yang sedang berada dalam hutan tersebut. Dengan rutinitas pengecekan  perangkap setiap 7 hari sekali bisa dikatakan  bahwa satwa yang terjebak akan menderita karena menunggu dalam waktu yang cukup lama untuk dilepaskan dari jebakan tersebut, bahkan bisa saja satwa tersebut mati.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 tahun 1994 tentang perburuan satwa buru, penggunaan jerat / perangkap dan lubang perangkap tidak diperbolehkan dalam perburuan.  Selain itu orangutan adalah satwa yang dikategorikan sebagai satwa yang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia sehingga kita tidak bisa memburu atau menangkapnya, jika melakukannya maka sesuai dengan UU No. 5 Tahun 1990 kita bisa terkena hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100.000.000.

“Akibat perusakan hutan dan perkembangan industry kelapa sawit di kabupaten Ketapang, banyak orangutan yang diburu atau tinggal di hutan yang terfragmentasi dan terisolasi, akibatnya banyak  orangutan semakin terdesak keluar habitatnya  sehingga banyak orangutan yang masuk di tempat penyelamatan dan rehabilitasi”- kata drh. Adi, manager IAR Indonesia di Ketapang. “Perusahaan harus ada komitmen dan tanggungjawab terhadap lingkungan dan keanegaraman hayati yang mereka rusakan, seharusnya jika perkebunan kelapa sawit dapat dikelola dengan mengikuti Guidelines for the Better Management Practices on Avoidance, Mitigation and Management of Human – Orangutan Conflict in and around Oil Palm Plantation maka dapat mengurangi konflik yang terjadi antara orangutan dengan manusia”

Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia
Jl. Woltermongonsidi, RT 09/RW 03
Kelurahan Kauman
Kecamatan Benua Kayong
Kabupaten Ketapang
Kalimantan Barat, Indonesia
(0534) 3038075

CP :
Drh. Karmele Llano Sanchez (Ketua Yayasan IAR Indonesia) - 081318887263
Drh. Adi Irawan (Manajer Administrasi IARI Ketapang) - 081392030357

Senin, 26 Maret 2012

Kukang, Primata Unik yang terbelenggu



Ditulis oleh : Tim Keeper Kukang
Pada hakikatnya semua satwa ingin hidup bebas, bebas berkeliaran di alam lepas (hutan) termasuk satwa unik yang satu ini yaitu Kukang. Di Indonesia ada tiga jenis kukang:
1.       Kukang jawa (N.Javanicus)
2.       Kukang Sumatra (N.coucang)
3.       Kukang Kalimantan (N.menagensis)
Diantara tiga jenis kukang tersebut, kukang jawa merupakan yang terancam punah. Oleh sebab itu pemerintah yang mempunyai kewenangan untuk menindak terhadap pelanggaran, perburuan, penyelundupan dan perdagangan satwa liar dilindungi harus bertindak tegas. Selain itu penyuluhan untuk menyadartahukan kepada masyarakat juga harus terus dilakukan. Dalam hal ini semua pihak harus duduk bersama dan melakukan tindakan bersama agar tujuan perlindungan kukang tercapai.

tidak layak di kandang
Tidak layak hidup di sangkar/ kandang
Satwa jenis apapun akan terbelenggu jika mereka berada dalam sangkar/kandang. Mereka akan stress dengan ruangan yang terbatas (sempit). Sama halnya kalau kita berada dalam ruangan yang sempit. Kita akan merasa tidak nyaman begitu pula mereka akan merasakan hal yang sama. Banyak dari mereka yang mengalamai kematian akibat stress saat hidup didalam ruangan yang sempit.
Tuhan menciptakan berbagai jenis mahluk hidup tentunya akan membawa manfaat untuk kehidupan didunia ini, karena saling ketergantungan antara mahluk satu dengan mahluk lainnya. Dan manusialah yang wajib menjaga dan memperbaiki kualitas lingkungannya karena manusia adalah mahluk yang berakal.
Bebas!
Biarkan mereka hidup bebas
Kukang banyak dijadikan peliharaan karena bentuknya yang lucu/unik sampai-sampai kukang ada juga yang ditaruh didalam kamar sebagai teman. Padahal kukang mempunyai racun. Jika dia terancam akan dikeluarkannya. Selain itu potensi zoonosis juga sangat membahayakan.
Maka biarkanlah kukang hidup bebas dihabitatnya dan jangan pernah mencobauntuk menangkap dan memeliharanya agar kelangsungan hidup mereka terjaga. Kukang bukanlah satwa peliharaan (pet), jadi dia lebih pantas hidup di alam bebas.


Mengenalkan Kukang Jawa di LATDAS PA (Latihan Dasar Pecinta Alam).


Memberikan edukasi kepada siswa Labschool
Oleh R. Huda
Pendidikan konservasi tidaklah harus dilakukan secara formal yaitu dalam lingkup sekolahan atau kampus dengan formalitas yang bisanaya terkesan kaku. Namun bisa juga dilakukan dalam suasana non formal. Hal ini biasanya akan lebih mudah diterima dan lebih “mengena” materi-materi yang disampaikan.
Tanggal 24 februari 2012, saat tim survey potensial habitat Kukang jawa di resort gunung salak II TNGHS, kebetulan ada rombongan dari Lab. School Kebayoran yang sedang melakukan kegiatan LATDAS PA.
“Ini moment yang bagus” kata kami.
Kemudian Kami menemui salah seorang yang terlihat senior menurut kami. Terlihat dari tampangnya “terlihat tua” he…….
Ternyata dia adalah Kawan dari Wanadri (bersama kawan-kawanya) yang sedang mendampingi siswa-siswa tersebut.
“Bos kami minta waktu sebentar untuk sharing Program IAR Indonesia  tentang konservasi Primata khususny Kukang jawa”. Ucap kami dengan gaya sok akrab.
Ok. Silahkan. Tetapi kami harus koordinasi dengan ketua kami dulu. Jawab bang Nanang, kawan dari Wanadri tersebut.
Kemudian setelah diskusi dengan ketua tim LATDAS kami di beri waktu yaitu pukul 21.00 wib untuk menyampaikan materi.
Malampun dating, kabut dingin turun dengan tetesan air bak salju menempel di rambut, baju menjadi putih bening mengkilat.
Dingin menusuk, kopi panas dihidangkan didepan kami yang sedang memberikan materi. Sepatah, duapatah kata dan seteguk kopi  menjadikan suasana hangat. Sehangat diskusi yang sedang berlangsung.
Pertanyaanpun mengalir deras hingga akhirnya kami diingatknan oleh panitia. Dengan berbisik lirih “maaf mas, waktunya habis, soalnya masih ada satu materi lagi dari kami” kata coordinator acara.
Tanggal 10 Maret 2012, saat monitoring Kukang Jawa hasil pelepasliaran IAR Indonesia di Cihideng, kami juga bertemu dengan rombongan  Pecinta alam yang sedang melakukan LATDAS di kawasan TNGHS yaitu dari MAN 4 Jakarta. Kami juga meminta waktu kepada pendamping kegiatan (pak guru) yaitu pak Ghozali.
“Silahkan mas. Kami juga sangat berterima kasih karena IAR Indonesia telah memberikan pengetahuan tentang konservasi primate khususnya kukang jawa. Dan kami masih sangat awam dengan hal tersebut.” Kata pak Ghozali dengan penuh keterbukaan menyambut kami.
Dua organisasi lagi yang terdiri dari anak-anak muda kini telah mengetahui dan mengenal kukang jawa. Namun masih banyak lagi masyarakat yang belum mengetahuinya. Semoga dengan pengenalan-pengenalan terhadap generasi muda ini akan tercipta kader-kader konservasi (khususnya kukang jawa) dan akan membantu melestarikannya.

Kamis, 22 Maret 2012

Monyet juga punya hak


Oleh IHp_Education
Saat kita memperlihatkan gambar monyet kepada orang-orang sebagian besar pasti akan tertawa, kenapa harus tertawa? Padahal dia adalah makhluk hidup yang sama dengan kita.
Mungkin salah satu alasannya adalah karena monyet (terutama monyet ekor panjang) sering menjadi satwa yang dipertontonkan seperti pada atraksi topeng monyet dan sirkus. Seringkali dalam atraksi tersebut monyet menjadi tokoh yang bodoh atau bahan lawak. Sehingga tidak aneh jika kebanyakan orang akan tertawa jika melihat monyet. 
Kemungkinan lain adalah karena kemiripannya dengan manusia. Hal ini membuatnya menjadi bahan ejekan yang cukup membuat orang merasa terhina jika dikatakan mirip dengan monyet.
Selain mendapat perlakukan yang cukup merendahkan diri mereka, mereka juga sering diperlakukan dengan sadis. Sebagai contoh, agar monyet dapat melakukan atraksi topeng monyet mereka dicambuk atau dipukul jika tidak menurut, tidak diberi makan berhari-hari jika tidak melakukan yang diinginkan majikanya. Contoh lain adalah monyet yang dipelihara ditelantarkan di kandang yang sempit karena pemiliknya sudah bosan dengannya atau kerena monyet itu menggigitnya.
Sebenarnya satwa juga memiliki hak untuk hidup sejahtera sama seperti manusia, bahkan sejak 1979 pemerintah Inggris melaui Farm Animal Welfare Council (sejak 2011 menjadi berganti nama menjadi Farm Animal Welfare Committee_www.fawc.org.uk) menetapkan lima kebebasan satwa untuk satwa ternak. Saat ini kelima kebebasan satwa tersebut digunakan juga bagi satwa non-ternak.
Satwa, termasuk monyet dikatakan sejahtera jika mereka memiliki kelima macam kebebasan satwa (harus memilki kelima-limanya) yaitu :
1.       Bebas dari kelaparan dan haus
2.       Bebas dari rasa tidak nyaman
3.       Bebas dari luka, rasa sakit dan penyakit
4.       Bebas berperilaku normal dan alami
5.       Bebas dari rasa takut dan penderitaan.
Pertanyaannya sekarang apakah monyet yang beratraksi untuk topeng moyet dan sirkus sejahtera? 
Apakah monyet yang dipelihara sudah pasti sejahtera?
Jawabannya? 
Jika anda melihat 5 kebebasan satwa, tentu saja mereka tidak sejahtera!
Beberapa ada yang kelaparan karena tidak diberi makan atau ditelantarkan.
Mereka tidak akan merasa nyaman karena mereka tidak bebas bergerak atau berpindah tempat karena dikurung dikandang yang kecil atau dirantai leher atau perutnya.
Monyet yang dicambuk atau dipukul pasti akan merasakan sakit dan jika mereka terluka, tidak menutup kemungkinan bisa terjadi infeksi dan menimbulkan penyakit
Monyet-monyet seharusnya berada di alam memanjat pohon, bergelantungan, berkumpul dengan sesamanya, bermain dengan temannya, makan buah, dedaunan atau serangga. Namun monyet yang dipelihara seringkali makan nasi, gorengan, es krim; tidur di tempat tidur dengan kita; ataupun melakukan atraksi meniru perilaku manusia seperti naik sepeda atau membawa keranjang.
Bunyi keras, suara mobil, suara manusia yang berteriak membuat mereka takut terutama jika mereka diikat atau kandangnya ditaruh berdekatan dengan jalan raya.  Beberapa juga menderita karena diikat di dekat jalan dengan tidak menggunakan penghalang apapun untuk sinar matahari yang terik ataupun pukulan dan cambukan yang diberikan agar menurut. Hal ini membuat mereka menderita.
Monyet adalah satwa liar dan satwa liar seharusnya hidup di hutan tidak berada bersama kita, manusia.