Tampilkan postingan dengan label monyet ekor panjang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label monyet ekor panjang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Mei 2012

Monyet ekor panjang: tak terlindungi dan paling banyak diperdagangkan di Pasar burung



Oleh: Ayut Enggeliah E
Monyet ekor panjang atau  Macaca fascicularis sudah sangat akrab di kalangan masyarakat Indonesia. Selain mudah dijumpai satwa bernasib “menyedihkan” ini juga memiliki banyak permasalahan, baik konflik maupun eksploitasi.
Rata-rata 50-70 ekor monyet ekor panjang diperjualbelikan pada setiap hampir setiap pasar burung yang ada di daerah Jawa, Bali dan Sumatera. Jadi dapat dibayangkan, berapa banyak jumlah total keseluruhan angka perdagangan untuk jenis ini? Sangat banyak!!!!
Banyak faktor yang menjadikan angka perdagangan Monyet ekor panjang sangat tinggi, diantaranya adalah:
1.       Status Monyet ekor panjang belum dilindungi oleh Undang-undang di Indonesia
2.       Tingginya angka permintaan dari konsumen kepada pedagang menyebabkan permintaan yang tinggi pula terhadap pemburu yang memburu satwa ini di alam liar.
3.       Dari sekian banyak jenis primata di Indonesia, harga penjualan monyet ekor panjang berkisar antara sekitar Rp. 125.000- Rp.250.000. Dengan harga yang cukup terjangkau masyakat sudah dapat memelihara monyet yang termasuk ke dalam satwa yang eksotis untuk dipelihara.
4.       Di beberapa kalangan masyarakat, monyet ekor panjang dijadikan menu santapan atau sumber daging pengganti hewan ternak.
Sungguh ironis memang ternyata satwa liar yang seharusnya hidup bebas dan liar dialam harus berakhir ditangan pemburu sampai akhirnya habis di meja makan atau dijadikan objek ‘lucu-lucuan’.
Sayangnya tidak banyak yang tahu bahwa penularan penyakit dari jenis satwa liar terutama primata ke manusia cukup tinggi. Kedekatan kekerabatan monyet ekor panjang dan manusia menjadi salah satu faktor utama penularan penyakit.
Banyaknya permasalahan yang muncul dan minimnya informasi yang positif bagi masyarakat tentang bagaimana dan apa saja yang dapat dilakukan apabila mendapati permasalahan tentang monyet ekor panjang disekitar kita merupakan indikasi bahwa edukasi dan penyadartahuan terhadap masyarakat secara umum tentang monyet ekor panjang harus diupayakan.
Kegiatan edukasi dan penyadartahuan tentang monyet ekor panjang sangatlah penting dilakukan tidak hanya di lingkungan sekolah namun kepada masyarakat secara umum. Sudah menjadi satu kesatuan bagi Yayasan IAR Indonesia sebagai pusat rehabilitasi primata di Indonesia untuk melakukan edukasi disemua kalangan.
Sudah menjadi sebuah kewajiban bagi semua kalangan masyarakat untuk menjaga kelestarian semua jenis satwa liar di Indonesia termasuk juga jenis Monyet ekor panjang sehingga tidak lagi menjadi “anak tiri” karena statusnya yang masih belum dilindungi UU Indonesia.
Mari menghargai Monyet ekor panjang dengan membiarkan mereka bebas di Alam!!!

Kamis, 22 Maret 2012

Monyet juga punya hak


Oleh IHp_Education
Saat kita memperlihatkan gambar monyet kepada orang-orang sebagian besar pasti akan tertawa, kenapa harus tertawa? Padahal dia adalah makhluk hidup yang sama dengan kita.
Mungkin salah satu alasannya adalah karena monyet (terutama monyet ekor panjang) sering menjadi satwa yang dipertontonkan seperti pada atraksi topeng monyet dan sirkus. Seringkali dalam atraksi tersebut monyet menjadi tokoh yang bodoh atau bahan lawak. Sehingga tidak aneh jika kebanyakan orang akan tertawa jika melihat monyet. 
Kemungkinan lain adalah karena kemiripannya dengan manusia. Hal ini membuatnya menjadi bahan ejekan yang cukup membuat orang merasa terhina jika dikatakan mirip dengan monyet.
Selain mendapat perlakukan yang cukup merendahkan diri mereka, mereka juga sering diperlakukan dengan sadis. Sebagai contoh, agar monyet dapat melakukan atraksi topeng monyet mereka dicambuk atau dipukul jika tidak menurut, tidak diberi makan berhari-hari jika tidak melakukan yang diinginkan majikanya. Contoh lain adalah monyet yang dipelihara ditelantarkan di kandang yang sempit karena pemiliknya sudah bosan dengannya atau kerena monyet itu menggigitnya.
Sebenarnya satwa juga memiliki hak untuk hidup sejahtera sama seperti manusia, bahkan sejak 1979 pemerintah Inggris melaui Farm Animal Welfare Council (sejak 2011 menjadi berganti nama menjadi Farm Animal Welfare Committee_www.fawc.org.uk) menetapkan lima kebebasan satwa untuk satwa ternak. Saat ini kelima kebebasan satwa tersebut digunakan juga bagi satwa non-ternak.
Satwa, termasuk monyet dikatakan sejahtera jika mereka memiliki kelima macam kebebasan satwa (harus memilki kelima-limanya) yaitu :
1.       Bebas dari kelaparan dan haus
2.       Bebas dari rasa tidak nyaman
3.       Bebas dari luka, rasa sakit dan penyakit
4.       Bebas berperilaku normal dan alami
5.       Bebas dari rasa takut dan penderitaan.
Pertanyaannya sekarang apakah monyet yang beratraksi untuk topeng moyet dan sirkus sejahtera? 
Apakah monyet yang dipelihara sudah pasti sejahtera?
Jawabannya? 
Jika anda melihat 5 kebebasan satwa, tentu saja mereka tidak sejahtera!
Beberapa ada yang kelaparan karena tidak diberi makan atau ditelantarkan.
Mereka tidak akan merasa nyaman karena mereka tidak bebas bergerak atau berpindah tempat karena dikurung dikandang yang kecil atau dirantai leher atau perutnya.
Monyet yang dicambuk atau dipukul pasti akan merasakan sakit dan jika mereka terluka, tidak menutup kemungkinan bisa terjadi infeksi dan menimbulkan penyakit
Monyet-monyet seharusnya berada di alam memanjat pohon, bergelantungan, berkumpul dengan sesamanya, bermain dengan temannya, makan buah, dedaunan atau serangga. Namun monyet yang dipelihara seringkali makan nasi, gorengan, es krim; tidur di tempat tidur dengan kita; ataupun melakukan atraksi meniru perilaku manusia seperti naik sepeda atau membawa keranjang.
Bunyi keras, suara mobil, suara manusia yang berteriak membuat mereka takut terutama jika mereka diikat atau kandangnya ditaruh berdekatan dengan jalan raya.  Beberapa juga menderita karena diikat di dekat jalan dengan tidak menggunakan penghalang apapun untuk sinar matahari yang terik ataupun pukulan dan cambukan yang diberikan agar menurut. Hal ini membuat mereka menderita.
Monyet adalah satwa liar dan satwa liar seharusnya hidup di hutan tidak berada bersama kita, manusia.


Jumat, 24 Februari 2012

PEMBERITAHUAN KEPADA PERS “Biarkan Monyet Bebas di Alam”


Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah satu dari lebih 250 jenis primata di dunia, monyet ekor panjang merupakan jenis primata yang mudah atau sering kita temui disekitar manusia (satelit manusia). Di Indonesia jenis ini belum dilindungi secara hukum, keberadaanya dialam terus dieksploitasi untuk kepentingan manusia yang diantaranya untuk diperdagangkan secara bebas dipasar-pasar hewan dan menjadi obyek pelitian dibidang kedokteran, biomedis, tekhnologi antariksa dll, kurangnya data dan informasi tentang jenis dan fungsi dialam juga menjadi salah satu pemicu tingginya angka perburuan.

Berdasarkan hasil pantauan secara umum dari data media massa dan dilapangan bahwa ada banyak permasalahan tentang Monyet ekor panjang, yang terjadi di banyak daerah dan menyeluruh dikawasan mulai dari Sumatera sampai Papua. Hal ini disebabkan banyak faktor salah satunya karena tingginya angka kelahiran dan kemampuan bertahan hidup ( daya survive). Satwa jenis ini dapat menyesuaikan diri dengan berbagai tipe habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda-beda, bahkan dalam kondisi buruk Monyet ekor panjang juga dapat bertahan hidup sendiri tanpa berkelompok.
Secara umum penyebab utama konflik Monyet ekor panjang adalah keluarnya kelompok monyet dari habitatnya baik terdesak oleh dinamika kelompok karena over populasi, kebutuhan pakan atau pun sengaja dilepas oleh pemilik karena berbagai alasan.

Salah contoh konflik tentang Monyet ekor panjang yang saat ini menjadi pembahasan media hampir selama satu bulan terakhir yaitu muncul berita baik di media cetak maupun televisi tentang konflik Monyet ekor panjang yang menyerang warga didaerah Taman Sidoarjo, berdasarkan pantauan media dan informasi warga lokal sekitar lokasi konflik, kemungkinan monyet-monyet tersebut bukan monyet liar mengingat lokasi kawasan hutan dari lokasi konflik sangat jauh. jadi besar kemungkinan monyet tersebut adalah peliharaan yang terlepas atau bahkan sengaja dilepas, karena akan sangat jelas dapat dibedakan karakter perilaku antara monyet liar dan monyet yang pernah dipelihara atau sudah terbiasa hidup disekitar manusia.

Dalam sisi kesejahteraan satwa (animal welfare) perlakuan terhadap semua jenis satwa haruslah sesuai principles of welfare atau dalam memperlakukaan satwa harus memperhatikan beberapa hal, yaitu: bebas dari haus dan lapar, bebas dari ketidaknyamanan, bebas dari rasa sakit akibat cidera dan sakit, bebas dari rasa takut dan tertekan, dan bebas berekspresi untuk berperilaku alami. Jadi sangat tidak bijak apa bila Monyet ekor panjang yang berhasil ditangkapan oleh warga dalam kasus konflik monyet di Sidoarjo tidak segera di amankan untuk direhabilitasi melainkan menjadi obyek “tontonan” warga dan dipublikasikan seluruh media dengan memperlakukan monyet tersebut tidak sesuai prinsip animal welfare yakni tertekan dengan alat gerak terikat, dianggap sebagai “hama” dan harus dimusnahkan (dapat ditembak mati).

Yayasan IAR Indonesia (International Animal Rescue) adalah merupakan LSM yang bergerak di bidang penyelamatan satwa, baik satwa domestik maupun satwa liar. Kegiatan utama IAR meliputi 3R yaitu rescue (penyelamatan), rehabilitation (rehabilitasi), dan release (pelepasliaran) kehabitat alaminya. Saat ini IAR Indonesia memfokuskan kegiatannya pada satwa primata salah satunya adalah Monyet ekor panjang.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan dalam menekan konflik Monyet ekor panjang antara lain yaitu jangan memelihara monyet, jangan melepas monyet “sembarangan” karena harus sesuai prosedur, buatlah tempat sampah tertutup sehingga tidak mudah dibuka oleh monyet, Jangan memberi makan monyet karena akan merubah perilaku alaminya, dll.

Yayasan IAR Indonesia mengajak semua masyarakat untuk menghargai monyet dengan kampanye dan penyadartahuan “Biarkan Monyet Bebas di Alam”.

Terimakasih


Untuk informasi lebih lanjut bisa berkunjung di website:

atau menghubungi kami di :

Yayasan IAR Indonesia Bogor
Jl. Curug Nangka Blok Pasir Loji
RT 04 RW 05 Kp. Sinarwangi , Kel. Sukajadi
Kec. Tamansari Ciapus Kab. Bogor 16610
PO BOX 125 Bogor 16001
Telp/Fax : (0251) 8389232

Ayut Enggeliah E
(Koordinator Program Mitigasi Konflik Monyet ekor panjang Muara Angke Jkt)
hp: 081234075917

Atau ke email :

Kamis, 02 Februari 2012

Keberadaan Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Hutan Angke Kapuk Jakarta

Peta Tutupan Lahan Muara Angke

Oleh: Ayut Enggeliah E. / Yayasan IAR Indonesia
Kawasan lahan basah menurut definisi sempit dalam ”Konvensi Ramsar” yang ditetapkan di Iran pada tahun 1972 adalah daerah peralihan antara sistem perairan dan sistem daratan. Secara fungsi dan peranannya menjadi sangat penting bagi banyak jenis tumbuhan dan sebagai habitat satwa karena lahan basah merupakan wilayah yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan dengan kebanyakan ekosistem. Di atas lahan basah tumbuh berbagai macam tipe vegetasi (tumbuhan), seperti hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, hutan bakau, paya rumput dan lain-lain. Satwa penghuni lahan basah juga cukup beragam, mulai dari satwa lahan basah reptile seperti buaya, kura-kura, biawak, ular, aneka jenis kodok, dan berbagai macam ikan; hingga ke ratusan jenis burung dan mamalia, termasuk juga menjadi habitat jenis mamalia besar harimau dan gajah.
Pada sisi yang lain, banyak kawasan lahan basah merupakan lahan yang subur, sehingga kerap dibuka, dikeringkan dan dikonversi menjadi lahan-lahan pertanian. Kecerendungan wilayah di Indonesia sebagai lahan persawahan, pertambakan, maupun sebagai lokasi transmigrasi.
Berdasarkan nilainya yang tinggi, di sebagian negara dengan potensi lahan basah yang tinggi diawasi dengan ketat sebagai fungsi penggunaan dimasukkan ke dalam program-program konservasi dan dirancang sebagai kawasan pelestarian keanekaragaman hayati seperti Biodiversity Action Plan.
Salah satu kawasan lahan basah yang masih tersisa dengan potensi alam yang cukup tinggi adalah kawasan Hutan Angke Kapuk (HAK) terdiri dari SMMA (Suaka Margasatwa), HL (Hutan lindung) dan TWA (Taman Wisata Alam) Muara Angke merupakan kawasan konservasi yang berlokasi di utara Jakarta. Meskipun Jakarta utara memiliki hutan yang tidak terlalu luas tetapi memiliki nilai keanekaragaman tinggi baik flora maupun fauna. Beberapa jenis satwa yang hidup di daerah ini antara lain terdapat 104 jenis burung (data: JGM 2010), mamalia, reptile dan 8 jenis mangrove sejati dengan 7 jenis vegetasi lainnya.
Salah satu jenis mamalia yang mudah untuk ditemukan didaerah HAK adalah Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), keberadaan monyet ini dibiarkan dalam keadaan liar karena berdasarkan sejarah konservasi, lokasi tersebut merupakan salah satu habitat alami mereka. Di dalam ekosistem yang ditempati, Monyet ekor panjang  yang termasuk bangsa primata, selain memiliki fungsi sebagai salah satu pengatur keseimbangan alam juga berfungsi sebagai pemencar biji (Pijl , 1982).

Berdasarkan survey dan monitoring populasi Monyet ekor panjang yang dilakukan oleh Yayasan IAR Indonesia pada tahun 2011, bahwa disekitar kawasan HAK terdapat 148 ekor Monyet ekor panjang dari 7 kelompok dengan keberadaan potensi pakan alami rata-rata 40% berasal dari alam yaitu jenis tumbuhan lahan basah adalah mangrove seperti Pidada (Sonneratia caseolaris), Api-api (Aviciena), Nipah (Nypa fruticans wurmb) dll dengan perhitungan total tutupan lahan GIS 49,16%.

Sebaran populasi Monyet ekor panjang tergantung dari potensi pakan, dapat disimpulkan bahwa jenis tumbuhan pakan alami yang dimakan dari kawasan HAK adalah terdapat 18 jenis, bagian yang dimakan adalah daun, buah, tangkai, kulit batang, akar, bunga, umbut dll. Dari 8 jenis tumbuhan tergolong sering dimakan (sangat disukai) adalah jenis tumbuhan mangrove.
Potensi pakan alami disekitar kawasan HAK sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan Monyet ekor panjang, untuk kawasan TWA saja dari total 8 jenis tumbuhan pakan terdapat 2 tumbuhan mangrove yang sangat disukai yaitu Pidada (Sonneratia caseolaris) dan Bakau (Rhizophora mucronata, R. apiculat) dengan frekwensi perjumpaan makan 11-15 kali. Sedangkan dari kawasan HL dengan tutupan lahan 56,52% didominasi jenis Rizhopora sp, dari 12 jenis tumbuhan pakan terdapat 4 jenis yang sangat disukai yaitu Akasia (Acacia auriculiformis), Api-api (Aviciena), Anggur laut dan Pidada (Sonneratia caseolaris). Dan untuk kawasan SMMA terlihat tutupan lahan dari jenis Pidada (Sonneratia sp) 38,9 % Rizhopora 22%, sedangkan luasan perairan yang ditumbuhi eceng gondok sekitar 25,8%. Dari total 11 jenis tumbuhan pakan di kawasan SMMA terdapat 4 jenis mangrove yang sangat disukai diantaranya Pidada (Sonneratia caseolaris) dan Nypa (Nypa fruticans wurmb) selain Petai cina (Leucaena Leucocephala) dan bagian umbut dari Eceng gondok (Eichhornia crassipes). (Data IAR-Indonesia 2011)

Potensi vegetasi kawasan mangrove di HAK terbilang cukup tinggi tetapi permasalah utama yang yang harus menjadi perhatian adalah keberadaan polusi sampah berasal dari sungai Angke juga menjadi ancaman utama dari kawasan sebagai habitat Monyet ekor panjang, berdasarkan pantauan yang dilakukan oleh JGM (Jakarta Green Monster) disalah satu kawasan HAK yaitu SMMA pada bulan Maret 2007 dalam kegiatan aksi bersih sampah setelah banjir besar Jakarta Februari 2007 diperoleh bahwa jumlah sampah plastik mencapai 4 ton. Sedangkan sampah non plastik sekitar 206 Kg. Jenis perolehan sampah cukup beragam mulai bungkus permen sampai kulkas. Sekitar 95 % sampah yang ditemukan merupakan sampah plastik dan sumbernya berasal dari rumah tangga. Sampah tersebut masuk ke dalam kawasan SMMA dan HL melalui aliran sungai Angke.

Dampak utama yang ditimbulkan dengan masuknya sampah ke dalam kawasan yaitu mengancam kelestarian ekosistem mangrove baik flora maupun faunanya. Dengan kehadiran sampah di SMMA dan HL adalah menyebabkan perubahan perilaku makan Monyet ekor panjang didalam kawasan. Sejak semakin banyaknya sampah masuk kawasan HAK, dari beberapa kelompok Monyet ekor panjang yang disekitar Sungai Angke total waktu mencarai makan adalah 40% makan sampah. Selain itu perilaku makan yang menyimpang adalah ancaman kesehatan jika plastik ikut termakan, akan mempengaruhi sistem pencernaan Monyet ekor panjang dan dapat berakibat kematian. Air sungai Angke yang telah tercemar oleh pencemar organik maupun non organik (logam berat) dan tingginya konsentrasi bahan pencemar di dalam kawasan, tentu akan berpengaruh pada keberlangsungan hidup ekosistem mangrove sebagai kawasan lahan basah itu sendiri.

Mari lindungi kawasan mangrove sebagai habitat Monyet ekor panjang dengan tidak membuang sampah sembarangan…

Selasa, 17 Januari 2012

3 ekor Monyet ekor panjang datang ke pusat rehabilitasi YIARI

proses rescue
Dengan adanya informasi yang tersebar tentang pusat rehabilitasi Monyet Ekor panjang milik Yayasan IAR Indonesia (YIARI), banyak pemilik monyet ekor panjang yang ingin menyerahkan peliharaannya. Beberapa adalah orang yang benar-benar sadar untuk menyerahkan monyetnya secara sukarela, beberapa yang lain tampaknya adalah pemilik yang bosan atau tidak mau bertanggung jawab-karena mereka hanya mau menyerahkan ketika monyetnya sudah sakit atau bermasalah.
YIARI mendapat telepon di awal bulan Januari ini tentang adanya monyet ekor panjang yang terantai di jalan di Jakarta dan berharap YIARI dapat merescue monyet tersebut dan dari situ diketahui juga bahwa Sang pelapor memiliki 2 ekor monyet. Setelah tim medis menghubungi pelapor dan memberi informasi bahwa tidak boleh memelihara satwa liar akhirnya pelapor setuju untuk menyerahkan monyet peliharaannya.
Rescue atau pengambilan satwa yang diserahkan secara sukarela oleh pemilik dilakukan pada tanggal 11 Januari 2011. Tim berangkat pagi dari kantor menuju rumah pelapor dan tempat monyet yang dirantai.
Tim mendatangi monyet yang dirantai terlebih dahulu. Monyet jantan dewasa ini berada di jalan di luar rumah dan terantai di bagian perut ke sebuah bangku. Pemilik mengatakan dia sering mengajak monyet tersebut berjalan-jalan meskipun begitu dengan kondisi rumah yang terletak dekat dengan sekolah yang berisik monyet tersebut terlihat gelisah dan takut, dia bahkan mengigit dirinya sendiri. Monyet kemudian dibius dan diangkut ke kandang transport. Dalam kegiatan ini drh. Intan memberikan informasi tentang monyet ekor panjang kepada penduduk yang menonton kegiatan tersebut termasuk juga memberikan leaflet.
Selanjutnya tim mendatangi pelapor untuk mengambil 2 ekor monyet ekor panjang miliknya. Kedua monyet tersebut adalah betina, yang lebih muda terantai di sebuah pohon sedangkan yang lebih tua berada di dalam kandang. Pelapor terlihat sangat mencintai kedua monyet tersebut dan terlihat sedikit sedih saat harus menyerahkan keduanya.
Ketiga monyet tersebut kemudian di bawa ke pusat rehabilitasi YIARI di Ciapus. Saat ini mereka sedang berada di kandang karantina untuk di cek kesehatannya sebelum mereka akan digabungkan dengan monyet lain di kandang sosialisasi.
Semoga ketiga monyet ini dapat menjalani proses rehabilitasi dengan baik sehingga mereka dapat dilepasliarkan kembali kealam.
Jangan memelihara monyet ekor panjang karena mereka adalah satwa liar yang berkelompok dan tidak seharusnya dipelihara oleh kita. Jika kita memelihara mereka artinya kita merenggut kebebasan mereka untuk hidup bebas dan bersama-sama dengan keluarganya.
STOP PELIHARA SATWA LIAR!!!!
(Chris Wiggs-translated by IHp_EDUYIARI)

Kamis, 15 Desember 2011

13 ekor Monyet Ekor Panjang Menikmati Kebebasan Hidup di Alam




Pemeriksaan kesehatan Macaca

Pusat rehabilitasi primata IAR Indonesia telah berhasil merehabilitasi dan melepasliarkan dua kelompok monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Panaitan-Taman Nasional Ujung Kulon pada tanggal 27 November 2011. Dua kelompok ini terdiri dari 6 ekor Kelompok Boy dan 7 ekor Kelompok Aquino. Mereka datang ke pusat rehabilitasi dengan berbagai kisah yang berbeda. Macaca bernama Api-Gunung-dan Jogja misalnya, mereka ialah korban evakuasi letusan gunung Merapi yang terjadi Oktober satu tahun silam. Macaca ini peliharaan yang ditinggalkan pemiliknya dengan kondisi dirantai saat peristiwa letusan Merapi. Setelah melalui proses rehabilitasi meliputi observasi tingkah laku, pengenalan makanan alami, pembentukan kelompok, pemberian enrichment untuk memicu perilaku alami, serta dinyatakan sehat, kemudian bisa dapat dilepasliarkan ke alam.
Lokasi pelepasliaran Legon Haji - Pulau Panaitan
Macaca secara alami hidup berkelompok dengan jantan dominan sebagai pemimpin. Kelompok macaca yang dirilis kali ini, satu kelompok dipimpin oleh Boy, Evita sebagai betina dewasa, Api, Ariel, Liong, dan Veron. Kelompok lainnya Aquino sebagai pemimpin kelompok, Annisa betina dewasa, Rita, Reni, Naeva, Gunung, dan Jogja. Lokasi pelepasliaran kali ini berbeda, sebelumnya Legon Kadam, dan rilis-site kali ini dipilih Legon Haji. Satu minggu sebelum satwa dibawa, tim advance dikirim untuk melakukan persiapan mengeksplorasi lokasi pelepasan dan membangun kandang habituasi.
Tim satwa YIARI
Kemudian pada 23 November pukul 14.00 mulai dilakukan prosedur medis yang meliputi pembiusan, pemeriksaan kesehatan umum, penimbangan, dan pemasangan microchip untuk identifikasi dimasa depan, setelah itu setiap ekor dimasukan dalam kandang transport. Pukul 21.00 WIB tim satwa berangkat dari Bogor menuju pelabuhan kecil di Sumur-Pandeglang Banten, selama diperjalanan diberikan air minum elektrolit dan pakan. Keesokan harinya kami sampai pukul 06.00 dan segera naik ke kapal yang akan mengangkut kami ke Pulau Panaitan, kami ditemani oleh dua polhut selama proses rilis ini. Lama perjalanan dengan kapal sekitar 3 jam. Selama diperjalanan ini kami sangat menikmati hijau-birunya laut, ombak yang tenang, dan burung laut terbang diatas kami. Kemudian kami mendekat ke sebuah pulau dengan pasir putih, dan pindah ke perahu jukung untuk bisa mendekat ke daratan. Kelompok Boy dan Aquino dilepas satu per satu ke dalam kandang habituasi. Mereka menghabiskan waktu selama dua hari di kandang habituasi untuk bisa mengenal kondisi lingkungan, suara, dan pakan alami yang ada disana.
Ariel makan buah Lampeni
Selama dua hari ini tim satwa melakukan observasi tingkah laku dari kejauhan. Terkadang macaca ‘Api’ memperlihatkan stereotypic bila ia mengetahui ada manusia dedekat area itu, sehingga selain observasi kami harus sejauh mungkin dari kandang habituasi. Di sekitar lokasi ini diperkirakan dihuni juga oleh 3 kelompok macaca liar. 1 kelompok didekat camp, 2 kelompok lain didekat kandang habituasi. Selama di kandang habituasi kami memperkenalkan pakan alami yang ada disana seperti daun waru laut dan daun-buah lampeni (Ardisia humilis), dan mayoritas mereka menyukai itu. Pada 27 November kami membuka atap kandang dan satu persatu dari mereka berlarian keluar dari kandang. Moment ini sungguh sangat membahagiakan bagi kami. Mereka semua berlari menjauhi manusia, dan inilah yang kami harapkan: tidak adanya ketergantungan macaca hasil rehabilitasi dengan manusia.
Monyet ekor panjang, satwa yang sering dipandang sebelah mata karena terkenal sebagai ‘hama’, ‘overpopulasi’, ‘tidak dilindungi’, namun hakikatnya mereka memiliki hak hidup dan kekebasan yang sama dengan satwa terancam punah sekalipun. Biarkan Mereka Hidup Bebas Di alam. Salam Lestari! (Intan Citraningputri-IAR Indonesia).

Selasa, 13 Juli 2010

Enrichment Makanan, Bantu Monyet Ekor Panjang Berperilaku Alami

IAR, Bogor – Sharmini, sukarelawan asal Malaysia tengah asyik mengamati perilaku Macaca Fascicularis atau monyet ekor panjang, di Pusat Rehabilitasi Satwa Internasional Animal Rescue (IAR) Indonesia, Curug Nangka, Ciapus Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Kedua bola matanya naik-turun mengikuti tingkah-polah Maccaca di salah satu kandang tersebut. Rupanya, Sharmini sedang meneliti dampak psikologis yang bakal muncul ketika proses rehabilitasi terhadap Maccaca dilakukan. Sebelum melepasliarkan Maccca, Sharmini menerapkan pembekalan ‘hukum alam’. Salah satu cara yang dilakoni yaitu dengan Enrichment of Food.

Penelitian ini, menurut Sharmini, bertujuan untuk memberikan secuplik informasi kepada Macaca tentang keadaan lingkungan alam yang sebenarnya dari dalam kandang. Maka, pendekatan melalui adaptasi lingkungan fiktif ini, dapat membantu Maccaca lebih cepat mempelajari keadaan alam. Dari penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa penyesuaian lingkungan dapat meningkatkan interaksi sosial. Hal itu dapat juga berarti sebagai cara yang tepat untuk bertahan hidup di alam liar.

Sharmini menggunakan makanan sebagai enrichment karena murah dan mudah disiapkan serta dapat mengembangkan keahlian yang dibutuhkan saat Maccaca kembali ke alam. Situasi alam sangat dinamis dan selalu berubah-ubah. Dengan adanya terapan ini diharapkan Maccaca mampu mengasah keahliaannya sendiri sesuai dengan batas kebutuhan hidup di alam.

Sharmini mengunakan 3 jenis pendekatan makanan untuk meningkatkan kemampuan dan mengembangkan perilaku saat mencari makanan.
Pertama, dengan cara menyebar biji kecil seperti biji bunga matahari, jagung kering, ke atas tanah.

Kedua, madu yang disimpan pada lubang di dahan pohon di dalam kandang. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan waktu dan perilaku pencarian makanan di pohon saat mencari serangga di pohon.

Terakhir, karung goni yang diisi dengan daun bambu kering serta ditambahkan kacang tanah dan buah-buahan kecil lalu diikat dibagian atas kandang. Hal ini berguna untuk meningkatkan manipulasi dan waktu mencari makanan.

Hasil dari pengamatan Sharmini secara umum, diketahui bahwa satwa berusia muda adalah satwa yang paling mendominasi dalam penggunaan pendekatan ini.

Batasan waktu mencari makanan seiring meningkat dengan penggunaan ketiga enrichment tersebut, namun khusus untuk pendekatan dengan madu pada sebuah dahan pohon, dipastikan dapat mudah ditemukan dan dihabisi. Terdapat peningkatan aktivitas namun bukan peningkatan keseluruhan pada waktu mencari makanan. Dapat terlihat secara umum bahwa Maccaca menghabiskan waktu lebih lama pada enrichment karung dan biji-bijian. Enrichment makanan yang sederhana dapat meningkatkan periode waktu dalam mencari makanan kepada satwa sebelum dilepasliarkan.