Tampilkan postingan dengan label rehabilitasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rehabilitasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Desember 2011

Dora, monyet cilik pendatang baru di Ciapus

Dora sedang diberi susu
Sejak November 2011, Yayasan  IAR Indonesia di Ciapus kedatangan penghuni baru. Seekor monyet balita berambut hitam yang sebelumnya dibeli oleh seseorang di pasar hewan sebelum akhirnya diserahkan kepada JAAN lalu ditranslokasi ke YIARI, Ciapus.
Dora, monyet yang cukup aktif dan sehat ini masih dirawat oleh tim medis dan tim perawat satwa, terutama untuk pemberian makanan dan susu. Tim juga mulai memperkenalkan Dora dengan kelompok monyet ekor panjang yang terdiri dari betina dan anak-anak. Perkembangannya cukup bagus, monyet betina dewasa menanggapi kehadiran Dora secara positif.
Semoga saja Dora bisa beradaptasi dengan cepat sehingga dia bisa bergabung dengan kelompok monyet ekor panjang betina yang nantinya akan bergabung dengan kelompok monyet ekor panjang jantan untuk dilepasliarkan kembali ke alam (IHp_EDUYIARI).



Rabu, 07 April 2010

Kukang: Satwa Imut yang Malang

Memiliki wajah lucu bukan berarti mempunyai nasib yang mujur. Setidaknya itulah yang dialami oleh satwa endemik Pulau Jawa: Kukang Jawa. Hewan primata tingkat rendah yang memiliki nama latin Nycticebus javanicus ini seringkali diburu manusia untuk dijual dan kemudian dijadikan binatang peliharaan karena wajahnya yang lucu dan menggemaskan. Tetapi, sahabat IAR, sebelum kita berbicara lebih lanjut soal kukang. Tahukah Anda apa itu kukang?

Kukang adalah salah satu jenis primata. Seperti halnya satwa primata lainnya, kukang memiliki lima jari yang bisa menggenggam. Kemampuannya ini dipakai untuk menapaki ranting dan cabang-cabang pohon di hutan. Dalam hal taksonomi atau ilmu klasifikasi mahluk hidup, satwa ini termasuk ke golongan primata tingkat rendah dengan sub ordo Strepsirrhini dan genus Nycticebus yang berarti “kera malam”. Kukang hidup di hutan-hutan pegunungan di tiga pulau besar di Indonesia, yaitu di Jawa (Nycticebus javanicus), Sumatera (Nycticebus coucang), dan juga Kalimantan (Nycticebus menagensis). Kukang memiliki cara jalan yang lambat serta ciri khas pada bentuk wajah. Pola warna yang dimiliki satwa ini juga menarik, yaitu satu garis gelap sepanjang tubuh (strip) yang mulai ada dari sekitar kepala sampai bagian belakang. Kukang adalah hewan nokturnal, yaitu hewan yang menghabiskan aktivitasnya di malam hari Dengan begitu tidak heran kalau kukang memiliki sepasang mata yang besar dan bulat sebagai adaptasi di kehidupan malamnya.

Saat ini, CITES, lembaga internasional yang mengurus soal keberadaan satwa liar, memasukkan Kukang Jawa ke dalam daftar 25 satwa yang terancam punah (Endangered species). Sedangkan pemerintah Indonesia memasukkan satwa ini ke dalam daftar satwa yang dilindungi. Biarpun begitu, ternyata masih ada saja ancaman bagi satwa ini. Ancaman utamanya adalah, seperti yang kita singgung di awal artikel ini, ya perdagangan illegal kukang jawa untuk hewan peliharaan.

Kukang Jawa banyak ditangkap untuk diperdagangkan. Sebelum dijual ke pembeli, biasanya para pedagang illegal mencabut paksa gigi taring kukang yang beracun untuk alasan keamanan pembeli. Tidak jarang banyak kukang-kukang yang akan dijual mengalami sakit yang parah sehingga akhirnya mati akibat luka di bagian gigi dan mulut.

Menanggapi masalah ini, pihak pemerintah melakukan penyitaan terhadap satwa-satwa liar yang diperdagangkan, termasuk diantaranya kukang. Nah, kukang-kukang hasil sitaan ini biasanya ditampung oleh LSM pusat rehabilitasi satwa seperti IAR. Saat ini terdapat 75 individu kukang di pusat rehabilitasi IAR dan 35 diantaranya Kukang Jawa. Kukang-kukang tersebut diberikan perawatan medis, makanan , dan juga tempat hidup yang layak untuk selanjutnya dilepasliarkan.

Demikianlah sahabat IAR, wajah dan tubuh kukang memang lucu dan menggemaskan sehingga banyak orang menganggapnya wajar untuk dipelihara. Akan tetapi, kukang merupakan satwa liar asli Pulau Jawa yang sedang terancam keberadaannya dibumi. Tidak seharusnya kukang diambil paksa dari habitat aslinya dan mengalami penderitaan di dunia yang tidak alami.